Logo Bloomberg Technoz

Secara lebih luas, pemerintahan Donald Trump tengah berambisi untuk memperkecil defisit perdagangan AS dengan Vietnam yang telah mencapai US$178 miliar. Di saat yang sama, Washington terus mendesak Hanoi untuk memperketat pengawasan terhadap barang-barang asal China yang sengaja dialihkan jalurnya melalui Vietnam.

“Ada praktik pengiriman ilegal murni di mana mereka mengirim barang (dari China) ke Vietnam, lalu menempelkan stiker 'Made-in-Vietnam' di sana,” ungkap Greer, mengulangi tuduhan yang kerap dilontarkan oleh pihak Washington. Bulan lalu, pemerintah Hanoi mengklaim bahwa pihaknya tengah memberantas praktik penipuan semacam itu.

Dalam laporan bulan April mengenai pelanggaran kekayaan intelektual, Vietnam menjadi negara pertama dalam 13 tahun terakhir yang masuk dalam daftar "Prioritas Negara Asing" (Priority Foreign Country)—sebuah status pelanggaran paling serius di bawah Undang-Undang Perdagangan AS. Negara ini juga menghadapi penyelidikan atas dugaan kelebihan kapasitas produksi, serta masuk dalam daftar 60 negara yang dinilai gagal menindak impor barang hasil kerja paksa.

Pihak Vietnam sendiri sebenarnya telah berupaya meredam kekhawatiran AS dengan menutup situs-situs pembajakan daring dan meningkatkan razia terhadap para penjual barang tiruan. Kendati demikian, tas desainer dan pakaian palsu terpantau masih marak dijual di pasar-pasar tradisional mereka, begitu pula dengan layanan streaming ilegal yang masih sangat mudah diakses. Pihak Hanoi juga membela rekam jejak mereka dalam mengatasi isu kerja paksa, sekaligus menolak temuan AS yang merekomendasikan penerapan tarif impor sebesar 12,5%.

Negosiasi dagang antara kedua negara tersebut saat ini berada dalam posisi buntu akibat tuntutan AS yang meminta aturan asal-usul barang (rules of origin) yang lebih ketat, serta tindakan yang lebih tegas untuk mencegah transit barang-barang China. Perbedaan pandangan terkait akses pasar dan hambatan non-tarif juga memperkeruh suasana. Sebelumnya, Presiden Donald Trump sempat mengancam akan menjatuhkan tarif hingga 40% bagi barang-barang yang terbukti transit lewat negara ketiga (transshipped), meski definisi teknis mengenai hal tersebut belum diputuskan secara final.

Dalam beberapa tahun terakhir, Vietnam telah bertransformasi menjadi pusat manufaktur utama bagi sejumlah merek raksasa asal AS. Nike, misalnya, memproduksi lebih dari separuh produk sepatunya di Vietnam. Sementara itu, Apple juga berencana untuk mengembangkan kategori produk barunya di negara tersebut, termasuk rangkaian perangkat elektronik rumah tangga pintar mereka.

(bbn)

No more pages