Adapun indeks LQ45 yang berisikan saham–saham big caps berhasil menopang IHSG dengan keberhasilan menguat mencapai 0,17% di posisi 599,9.
Sejumlah saham LQ45 yang menjadi barang penopang bursa saham, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menguat 5,17%, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang melonjak 4,11%, dan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan kenaikan 2,74%.
Senada, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terbang 1,96%, saham PT Indosat Tbk (ISAT) menguat 1,88%, dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang melejit 1,26% juga berhasil mendukung penguatan IHSG.
Adapun Bursa Asia turut berfluktuatif sepanjang perdagangan hari ini, dengan laju yang bervariasi (mixed), diantaranya KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), TW Weighted Index (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), Hang Seng (Hong Kong), Topix (Jepang), Straits Times (Singapura), PSEI (Filipina), SETI (Thailand), dan SENSEX (India) berhasil menguat di zona hijau dengan penguatan optimistis.
Sementara itu, jauh di sisi berseberangan dengan IHSG, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Shenzhen Comp. (China), KLCI (Malaysia), Shanghai Composite (China), dan CSI 300 (China), melemah dan tertekan pada siang hari ini.
Pelemahan Rupiah Mereda, Ditutup Menguat 0,14%
Setelah melemah hingga pepet level All Time Low/ ATL di tengah kembali panasnya tensi geopolitik antara AS dan Iran yang digagas oleh Presiden Donald Trump, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini di pasar spot, berhasil ditutup menguat.
Penguatan rupiah sepanjang hari ini sejatinya terjadi saat investor tampak lebih percaya diri di tengah respons pemodal regional yang juga cenderung mengesampingkan konflik Timur Tengah, dengan bergeser fokus terhadap hasil inflasi AS atau Indeks Harga Konsumen (IHK).
Data real time Bloomberg menunjukkan, rupiah berhasil ditutup menguat 0,14% di posisi Rp18.067/US$ pada penutupan pasar spot, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh terlemahnya Rp18.110/US$.
Penguatan rupiah berhasil tercatat mencapai 0,14% sampai tutup pasar. Terlebih lagi, rupiah menutup hari dengan penguatan paling tajam di antara mata uang Asia.
Sentimen positif dari global berasal dari hasil perilisan data inflasi AS (CPI) yang lebih rendah dari estimasi pasar memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan lebih dovish dengan mempertahankan Federal Funds Rate pada pertemuan berikutnya, sehingga aset–aset berisiko kembali diminati, mengutip Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Data inflasi AS yang rilis dini hari tadi meredakan kecemasan investor. Spekulasi The Fed dapat mulai menaikkan suku bunga secepatnya bulan ini, juga berangsur–angsur mereda. Indeks kekuatan dolar (DXY) mengalami hari terburuknya dalam hampir dua minggu, hingga menyentuh 100,919.
Harga Konsumen turun pada Juni untuk pertama kalinya dalam enam tahun, sementara indikator utama inflasi inti relatif stabil. Pejabat The Fed kemungkinan akan menyambut baik data ini menjelang rapat mereka mendatang, biarpun ketegangan di Teluk Persia berisiko memperpanjang dampak konflik tersebut.
“Indeks Harga Konsumen yang lebih rendah dari perkiraan merupakan kelegaan besar,” kata Tiffany Wilding dari Pacific Investment Management Co., seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Laporan IHK kali ini dinilai jauh lebih baik daripada perkiraan, menurut penuturan Bill Adams, Kepala Ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank.
Dari dalam negeri, sentimen positif dari disematkannya label BBB yang dalam kategori investment grade dengan prospek stabil oleh S&P Global Ratings untuk pasar obligasi Indonesia, jadi asa.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut, sentimen di pasar positif setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil, yang menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi.
“Respons positif terhadap keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB/A-2 dengan outlook Stable,” papar BRI Danareksa Sekuritas.
(fad)































