Sementara penguatan terhadap rupiah tertopang oleh aliran dana masuk ke pasar obligasi, setelah S&P Global Ratings mengklasifikasikan pasar surat utang ke dalam prospek stabil.
Melansir data Bloomberg, yield tenor 1 tahun tercatat turun 5,7 bps ke 7,14%, disusul tenor 2 tahun ikut turun 5,8 bps menjadi 7,2%. Begitu juga tenor 5 tahun mengalami penurunan yield 2,9 bps jadi 7,2%, dan tenor 10 tahun turun 1,8 bps jadi 7,24%.
Di satu sisi, hari ini juga Bank Indonesia (BI) kembali menggelar operasi moneter dalam bentuk lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan mengantongi Rp15 triliun. Penawaran yang masuk dalam lelang ini juga tercatat naik 0,66% dari lelang sebelumnya menjadi Rp30,66 triliun dari posisi sebelumnya Rp30,46 triliun.
Meski demikian, penguatan rupiah masih menghadapi sejumlah tantangan. Perlambatan ekonomi China berpotensi menekan prospek ekspor Indonesia, mengingat China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.
Di sisi lain, arah kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat serta dinamika geopolitik global masih berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan internasional.
Dengan begitu, apresiasi rupiah kali ini lebih tepat dibaca sebagai hasil kombinasi membaiknya sentimen global dan tetap terjaganya kredibilitas kebijakan domestik, bukan sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap nilai tukar yang telah sepenuhnya berakhir.
(dsp/aji)































