Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, produksi aktual tercatat sekitar 2,1 juta ton, sehingga rasio konversinya diperkirakan mencapai sekitar 58%.

“Teredamnya dampak [pemangkasan RKAB terhadap harga nikel global] adalah kecepatan substitusi bijih Filipina. Respons ini cepat karena tidak memerlukan capex atau tambang baru: kita sudah pernah impor dan laju impor nya pun sekarang sudah dua kali lipat,” kata Andry ketika dihubungi, Rabu (15/7/2026).

Produsen nikel terbesar di dunia./dok. Bloomberg

Menurut Andry, smelter nikel di Indonesia relatif cepat mendapatkan sumber pasokan dari FIlipina karena tidak memerlukan investasi baru maupun pembukaan tambang baru.

Selain itu, lanjut Andry, jarak pengiriman yang relatif dekat membuat biaya logistik tetap kompetitif. Ongkos angkut bijih dari Surigao, Filipina ke Indonesia diperkirakan hanya sekitar US$11 per ton basah atau wet metric ton (wmt). 

Pertahankan Rasio

Dari sisi teknis, sebagian smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) di Indonesia juga membutuhkan bijih Filipina untuk memperoleh rasio silika terhadap magnesium yang sesuai dalam proses peleburan.

Andry turut menilai penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara asosiasi penambang nikel Indonesia–Filipina makin memperkuat perdagangan bijih nikel antara kedua negara.

Adapun, Indonesia tercatat telah mengimpor sekitar 6,02 juta ton bijih nikel dari Filipina sepanjang Januari hingga Mei 2026, naik 116,8% secara year on year (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 2,78 juta ton.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor bijih nikel dan konsentrat (ore nickel and concentrates) dengan kode HS 26040000 sepanjang Januari—Mei 2026 tercatat terbesar ke wilayah Weda, Maluku Utara dengan volume sekitar 3,69 juta ton.

Kemudian, impor bijih nikel dari Filipina yang masuk ke Morowali tercatat sekitar 852.651 ton pada Januari hingga Mei 2026.

Selain itu, bijih nikel impor dari Filipina sebanyak 817.751 ton tercatat masuk wilayah Kendari pada Januari—Mei 2026.

Selanjutnya, bijih nikel dari Filipina sepanjang Januari–Mei 2026 sejumlah 656.551 ton masuk ke wilayah Kolonodale.

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) sebelumnya memperkirakan impor bijih nikel akan mencapai 25 juta ton sepanjang 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan impor sepanjang 2025 lalu sejumlah 15,33 juta ton.

“Kurang lebih 25 juta [ton] untuk tahun ini impornya [bijih nikel]. Hitungan kami,” ungkap Ketua FINI Arif Perdana Kusumah kepada awak media dalam agenda Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026, awal Juni.

Arif menambahkan, hingga Mei 2026, FINI mencatat Indonesia telah mengimpor lebih dari 5 juta ton bijih dari Filipina.

Menurutnya, peningkatan impor bijih tahun ini masih dipengaruhi keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 menjadi 260—270 juta ton, lebih rendah dari produksi tahun lalu sebesar 320 juta ton.

Arif juga menyebut memprediksi impor Filipina sepanjang 2026 adalah sebesar 30 juta ton. Namun, hingga semester I-2026, FINI mencatat adanya smelter yang memutuskan memangkas utilisasi mereka yang ujungnya berpengaruh pada penyerapan bahan baku bijih.

“Kalau menghitung saat ini kan sudah ada yang utilisasinya turun, jadi ada penurunan produksi, sehingga angkanya [impor bijih nikelnya] pasti berubah,” tambahnya.

Nikel diperdagangkan di harga US$16.765/ton pada di LME hari ini, turun 0,01% dari penutupan hari sebelumnya.

Sentimen harga nikel./dok. BMI

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah di bawah US$14.000/ton dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton.

Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages