Lionel menyebut, perbaikan ini terjadi lantaran adanya kenaikan pendapatan pajak yang disertai penghematan belanja. "Kenaikan pendapatan tersebut juga memicu penurunan rasio TTM interest burden coverage pemerintah menjadi 17,84%," sebut Lionel dalam catatannya.
Defisit fiskal TTM artinya total defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selama 12 bulan terakhir. Periode ini umumnya digunakan agar memberikan gambaran yang lebih stabil mengenai kondisi fiskal, lantaran penerimaan dan belanja pemerintah umumnya dipengaruhi faktor musiman seperti pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) pegawai, bantuan sosial, pembayaran bunga utang, dan penerimaan pajak tahunan.
Perubahan Yield
Meski mengalami peningkatan minat, lelang kemarin tidak sepenuhnya diikuti penurunan yield. Hanya PBS030 (tenor 2 tahun) yang mengalami penurunan yield sekitar 3,7 basis poin (bps), sedangkan PBS040 (tenor 4 tahun) justru mencatat kenaikan 1,9 bps menjadi 7,24% dan PBS034 (tenor 13 tahun) naik 6,9 bps menjadi 7,3%.
Berikut rinciannya:
Kenaikan yield pada sebagian tenor menunjukkan investor masih meminta premi risiko yang lebih tinggi terutama pada tenor menengah hingga panjang.
Sepertinya investor masih mempertimbangkan beberapa faktor risiko seperti, ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan membuat harga minyak kembali naik, adanya potensi tekanan inflasi global, serta prospek kebijakan suku bunga bank sentral utama yang masih bergantung pada data ekonomi berikutnya.
Untuk diketahui, pada saat lelang berlangsung pada kemarin pukul 09:00-11:00 WIB, pergerakan rupiah relatif stabil di rentang Rp18.081-Rp18.100/US$.
(dsp/aji)






























