Andry menegaskan bursa LME hanya menerima nikel kelas 1 berbentuk katoda dengan tingkat kemurnian minimal 99,8%.
“Stok LME tidak terkuras dan harga logam dunia tidak punya alasan untuk naik, sehingga seluruh beban penyesuaian ditanggung di dalam negeri melalui cost inversion smelter, penurunan utilisasi, dan tekanan pada penambang kecil yang tidak terintegrasi,” kata Andry ketika dihubungi, Rabu (15/7/2026).
Dengan kondisi tersebut, lanjutnya, pemangkasan kuota produksi bijih di Indonesia tidak otomatis mengurangi suplai nikel yang menjadi acuan perdagangan di LME.
Tekanan Margin
Andry justru menilai pemangkasan RKAB nikel menyebabkan kenaikan biaya produksi NPI dan tekanan terhadap margin smelter domestik, terutama pada smelter yang tidak terintegrasi dengan tambang.
Lebih lanjut, Andry menyatakan klaim pemangkasan RKAB 2026 yang dapat memotong 30% pasokan bijih dunia hanya bakal mengurangi pasokan nikel primer global sebesar 4%.
Andry memprediksi pasokan nikel global bakal berkurang gegara kebijakan tersebut dari 3,88 juta ton pada 2025 menjadi 3,71 juta ton pada 2026.
Dengan begitu, defisit pasokan yang tercipta hanya 32.000 ton atau cuma 0,85% dari konsumsi dunia.
Suplai Shanghai
Kendati begitu, Andy menegaskan kondisi tersebut harus dibandingkan dengan stok atau inventori bursa logam global yakni LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE).
Andry mencatat gabungan inventori logam nikel di LME dan SHFE mencapai sekitar 468.000 ton pada pertengahan 2026, sekitar 6,5 pekan konsumsi global sebesar 72.058 ton per pekan. Lalu, kondisi tersebut lebih besar 14,6 kali dibandingkan dengan defisit tahunan.
“Pada laju defisit sekarang, dibutuhkan hampir 15 tahun untuk menguras stok tersebut. Selama persediaan yang bisa diserahkan ke bursa sebesar itu masih ada, tidak ada pembeli yang perlu membayar premi untuk logam segera,” tegasnya.
Dihubungi terpisah, analis komoditas dan founder Traderindo Wahyu Laksono memprediksi kebijakan pemerintah untuk membuka revisi kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 secara terbatas dan terukur bakal memperkokoh harga batah bawah nikel dunia.
Wahyu memprediksi harga logam bakal mengalami kenaikan meskipun terbatas, logam tersebut diramal bakal naik ke sekitar US$17.500/ton dari harga saat ini di rentang US$16.000—US$16.500/ton.
Dia menyatakan kenaikan harga logam nikel yang terbatas dapat terjadi sebab pasar sudah berspekulasi bahwa kuota produksi RKAB nasional bakal direlaksasi ke 300—360 juta ton.
Bahkan, Wahyu mencatat harga nikel di LME sempat turun ke level terendah tahun ini sebesar US$16.115/ton gegara kabar tersebut.
Untuk itu, kepastian sikap pemerintah menolak relaksasi RKAB besar-besaran bakal meredam sentimen tersebut.
“Harga LME diproyeksikan bergerak di rentang US$15.500—US$17.500/metrik ton. Setelah evaluasi revisi RKAB selesai pada akhir Juli, pasar akan merespons volume riil pasokan dan harga kemungkinan besar akan menemukan landasan kuat di atas US$16.500/ton,” kata Wahyu ketika dihubungi.
Adapun, Kementerian ESDM menegaskan tidak akan ada peningkatan signifikan terhadap kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 guna menjaga keseimbangan pasar guna mencegah terjadinya kelebihan pasokan (oversupply).
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan penyesuaian RKAB hanya akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan smelter yang saat ini masih kekurangan pasokan bijih nikel.
"Ini saya mau jelaskan, nikel tidak ada kenaikan [kuota produksi di RKAB] kecuali hanya mengejar untuk smelter yang masih kekurangan supply. Itu saja," ungkap Tri saat ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/7/2026) petang.
Saat ditanya mengenai perincian angka penambahan kuota tersebut, Tri enggan membeberkan secara spesifik.
Dia menyebut Ditjen Minerba masih menghitung total kebutuhan smelter dan mencocokkannya dengan kuota RKAB yang telah disetujui sebelumnya.
"Kita masih [menghitung] maksudnya yang smelter itu kebutuhan totalnya berapa, terus habis itu kemarin yang sudah disetujui RKAB-nya berapa, terus habis itu nanti ya paling nambah-nambah sedikit doang. Jadi penambahan untuk nikel tidak terlalu signifikan lah, hanya untuk mengejar yang itu," tambahnya.
Sekedar catatan, logam nikel dilego di harga US$16.765/ton pada di LME hari ini, turun 0,01% dari penutupan hari sebelumnya, masih jauh dari level di atas US$20.000/ton pada 2022 dan periode short squeeze yang melambungkan harga ke rekor historis US$100.000/ton pada Maret tahun yang sama.
Adapun, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta ton.
Di sisi lain, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mengestimasikan produksi logam nikel kelas 1 dan kelas 2 sepanjang 2025 mencapai 2,46—2,5 juta ton, meningkat dari realisasi produksi 2024 sebanyak 2,2 juta ton.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menjelaskan Indonesia membutuhkan kurang lebih sebanyak 300 juta ton bijih atau ore nikel untuk menghasilkan produksi logam sebanyak 2,46 juta ton tersebut.
Dia menambahkan kapasitas terpasang fasilitas smelter nikel di Indonesia tercatat sebesar 2,8 juta ton nikel yang terdiri atas 2,3 juta ton smelter pirometalurgi berbasis RKEF dan 500.000 ton smelter hidrometalurgi berbasis HPAL.
(wdh)






























