Jika eskalasi perselisihan ini terus berlanjut, maka gangguan pasokan serta kenaikan harga minyak berpotensi terjadi, yang pada akhirnya kembali mengerek inflasi di luar jalur yang sudah ditetapkan bank sentral.
Meski begitu, pergerakan rupiah hari ini tertopang oleh sentimen positif setelah S&P Ratings masih menyematkan pasar utang Indonesia di tingkat BBB dengan outlook stabil. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut hasil assesment S&P tersebut dapat mendorong kepercayaan investor dan kembali menarik arus modal mengalir deras (inflow) ke pasar keuangan Tanah Air.
Di tengah kondisi ini tekanan terhadap rupiah diperkirakan melonggar dengan potensi pergerakan di rentang Rp18.000-Rp18.100/US$.
Secara teknikal, rupiah berpotensi menguat hari ini. Mata uang Ibu Pertiwi berpeluang menembus resistance terdekat Rp18.050/US$, dengan resistance potensial selanjutnya menuju Rp18.000/US$ usai penembusan di trendline sebelumnya.
Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp17.970/US$ sebagai target paling optimistis dalam tren jangka pendek (short-term).
Sebaliknya nilai rupiah memiliki level support terdekat di Rp18.100/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi support selanjutnya Rp18.200/US$ juga sebagai support psikologis.
(riset/aji)































