Di antaranya adalah yuan offshore, dolar Singapura dan yen Jepang. Namun, tak lama berselang ketiganya berbalik arah dan melemah terbatas 0,01%. Pelemahan paling dalam terjadi pada baht Thailand 0,55%, dan disusul ringgit Malaysia 0,28%.
Bagi rupiah, peringkat utang Indonesia yang bertahan di level investment grade alias layak investasi dengan outlook stabil dari S&P Ratings memberikan sentimen positif bagi aset berdenominasi rupiah, khususnya pasar obligasi pemerintah.
Sentimen ini juga sempat meredakan gejolak yang terjadi pada Surat Utang Negara (SUN) tenor pendek 1 tahun yang sempat bertengger di level 7,4% pada sesi perdagangan pagi, kemarin (13/7/2026), menjadi 7,2% pada sesi perdagangan sore. Namun, pasar SUN belum sepenuhnya merespons positif yang ditandai dengan naiknya yield pada hampir mayoritas tenor likuid seperti 1 tahun, 5 tahun dan tenor acuan 10 tahun.
Kemarin, yield tenor 2 tahun naik 3 basis poin (bps) menjadi 7,24%, tenor 4 tahun melonjak 8,2 bps ke 7,29%, tenor 5 tahun naik 6 bps jadi 7,23%, sedangkan tenor 7 tahun dan 10 tahun naik masing-masing 4,3 bps dan 3,2 bps menjadi 7,29% dan 7,26%.
Menurut Wee Khoon Chong, Strategist Asia Pasifik di BNY, keputusan ini memang dapat menopang sentimen pasar yang sebelumnya berekspektasi bahwa S&P akan memberikan penilaian negatif bagi Indonesia. Namun, dia juga menilai bahwa keputusan ini belum mampu menghilangkan sebagian tekanan negatif dan belum cukup untuk memicu reli di pasar obligasi secara berkelanjutan.
"Dolar AS masih menjadi faktor yang paling dominan, begitu pula dengan arus dana investor asing," katanya, seperti dikutip Bloomberg News.
Wee memperkirakan tekanan arus keluar modal akan masih membebani nilai tukar rupiah dalam jangka pendek, setidaknya sampai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan depan.
Dari sisi sentimen, arah rupiah dalam jangka pendek diperkirakan tetap ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni perkembangan konflik AS-Iran yang memengaruhi harga minyak dunia, pergerakan indeks dolar AS, serta ekspektasi terhadap hasil RDG.
Meski keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia memberi sedikit bantalan bagi kepercataan investor, pasar tetap menantikan sinyal yang lebih kuat dari BI terkait stabilisasi nilai tukar. Di tengah penantian sinyal ini, volatilitas rupiah di pasar spot diperkirakan masih tetap tinggi dengan kecenderungan bergerak di kisaran Rp18.100-Rp18.150/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih berisiko melemah usai menembus support potensial. Target pelemahan menuju level Rp18.150/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di level Rp18.170/US$ yang merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah.
Jika nantinya nilai tukar rupiah lanjut melemah dengan volume yang besar, maka masih ada kemungkinan untuk terdepresiasi hingga mencapai Rp18.200/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame harian menjadi resistance psikologis potensial yaitu Rp 18.050/US$. Kemudian target penguatan lanjutan ada di Rp18.000/US$.
(riset)































