Interoperabilitas data ialah kemampuan berbagai sistem, aplikasi, atau perangkat teknologi untuk saling berkomunikasi, bertukar data, dan menggunakan informasi yang dipertukarkan secara efektif, tanpa campur tangan pengguna.
“Artinya dari sisi aplikasi pajak digital coretax pun bisa memonitor sebenarnya seperti apa. Tetapi tentu kita tidak akan memaksakan ketika kondisi ekonomi sedang ada perlambatan,” kata Bimo ditemui di kantornya, Senin (13/7/2026).
“Tapi ceteris paribus di kondisi yang sekarang, mesin-mesin kami optimalkan. Kalau ditanya perluasan basis pajak setidaknya 143.000 dari perluasan basis pajak yang baru.”
Di sisi lain, Bimo menyebut terdapat potensi penerimaan dari sejumlah sektor lain yang tengah mengalami peningkatan. Di antaranya seperti pembelian beberapa bahan baku impor di industri tekstil, industri petrokimia, hingga industri pakan ternak.
“Saya lihat semuanya bagus dari sisi input PPN impor. Jadi kami berharap dengan adanya input yang bagus, maka produksinya [sektor] juga bakal bagus di periode ke-2, kuartal ke-III dan ke-IV, 2026,” ujarnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), IKK April 2026 memang berada di level optimistis sebesar 123,0, naik tipis dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 122,9. Akan tetapi, angka tersebut mulai turun pada Mei 2026 yang berada pada level 120,9. Kemudian pada Juni 2026 kembali turun di angka 117,8.
Tak hanya itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) juga ikut turun menjadi 109,2 dari 112,2. Sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melemah jadi 126,4 dari posisi sebelumnya 129,7.
Hasil survei ini menggambarkan bahwa masyarakat bukan hanya merasa kondisi ekonomi sekarang mulai kurang baik dibandingkan bulan sebelumnya, tapi juga mulai menurunkan ekspektasi terhadap perbaikan ekonomi dalam enam bulan mendatang.
Bahkan, penurunan persepsi kondisi saat ini lebih mengkhawatirkan sebab terjadi pada seluruh komponen. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) turun menjadi 119,8 dari 123,2. Hal ini mencerminkan banyak rumah tangga yang merasa pendapatannya tak sebaik bulan sebelumnya.
Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja juga melemah menjadi 101,8 dari posisi sebelumnya 105. Terbatasnya kondisi lapangan kerja telah membuat persepsi masyarakat mendekati batas pesimis di level 100.
Sementara itu, indeks pembelian barang tahan lama juga ikut turun menjadi 105,9 dari posisi sebelumnya 108,3. Indeks ini mencerminkan kondisi masyarakat yang mulai menunda pembelian barang bernilai besar seperti kendaraan, elektronik, maupun furnitur.
Pelemahan yang terjadi pada indeks pembelian barang tahan lama (durable goods) sejatinya layak mendapat perhatian khusus, terlebih di negara yang mengandalkan konsumsi dan daya beli sebagai roda penggerak perekonomiannya.
Dalam banyak siklus ekonomi, keputusan membeli durable goods ini merupakan indikator dini perubahan perlaku konsumsi rumah tangga.
Ketika konsumen mulai menunda pembelian aset bernilai besar, hal tersebut biasanya mencerminkan meningkatnya kehati-hatian terhadap kondisi pendapatan maupun ketidakpastian ekonomi di masa depan.
Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) RI, perubahan perilaku ini menjadi sinyal penting bagi prospek pertumbuhan ekonomi di semester kedua tahun ini.
(lav)




























