Namun, dari sisi kesiapan teknis, Pertagas berada dalam posisi yang sangat siap untuk mengambil peran penting sebagai pilar penyedia infrastruktur.
"Pertagas sebagai bagian dari subholding gas Pertamina dalam hal ini sebagai perusahaan infrastruktur energi dengan sejumlah ruas pipa gas bumi yang telah beroperasi dan dominan berperan sebagai transporter," ujar Sulthani.
Sulthani menambahkan kemampuan operasional perusahaan tidak hanya terbatas pada pipa transmisi gas. Pertagas grup juga mengelola stasiun kompresi gas bumi yang memegang peranan krusial dalam rantai pasok pemrosesan gas menjadi CNG.
"Kemudian terdapat stasiun kompresi gas bumi yang dioperasikan oleh Pertagas grup, sehingga secara umum memiliki peluang juga untuk mendukung kompresi CNG melalui optimalisasi infrastruktur yang telah ada," tambahnya.
Sebagai informasi, Pertagas sebagai bagian dari subholding gas Pertamina, memiliki peran penting dalam menyediakan pasokan gas alam terkompresi atau CNG.
Integrasi jaringan pipa transmisi milik Pertagas berfungsi sebagai infrastruktur hulu hingga ke titik stasiun kompresi gas (mother station), yang kemudian diturunkan ke jaringan distribusi melalui anak usaha, seperti PT Gagas Energi Indonesia untuk operasional CNG ritel atau gaslink.
Adapun, Pertagas bertindak sebagai operator yang mengelola jalannya operasional pipa Cisem Tahap II (Batang–Cirebon–Kandang Haur Timur).
Jaringan ini memiliki panjang sekitar 245 km sebagai mata rantai krusial karena mengintegrasikan jaringan pipa gas dari Sumatra bagian tengah hingga Jawa bagian timur.
Pertagas juga mengoperasikan infrastruktur Stasiun Kompresi Gas (SKG) yang digunakan untuk memampatkan gas alam dari tekanan pipa (inlet sekitar 8—14 barg) hingga mencapai 250 barg menjadi CNG agar siap didistribusikan secara off grid (tanpa pipa langsung ke konsumen).
Fasilitas kompresi utama saat ini berada di wilayah Jawa bagian tengah untuk menyuplai CNG ke pembangkit listrik (PLTGU Tambak Lorok) serta industri sekitar saat beban puncak atau kekurangan pasokan pipa.
SKG utama lainnya juga berada di Cikarang Selatan yang menghubungkan pipa interkoneksi regional Jawa Barat. Fasilitas ini menjadi tulang punggung pasokan gas yang siap diintegrasikan untuk pengisian infrastruktur CNG, termasuk kesiapan pemenuhan bahan baku skid/mother station CNG.
Sebelumnya, bahan baku CNG berupa gas alam murni telah menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Prabowo mengungkapkan Indonesia memiliki potensi besar gas alam yang dapat menjadi solusi untuk menghentikan ketergantungan RI pada impor LPG
"Baru kita ketahui bahwa kita punya CNG. Kalau LPG masih kita impor, tetapi CNG kita sangat banyak, sangat-sangat banyak," ujar Prabowo saat berpidato dalam agenda peluncuran mandatori B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta—Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Menurut Prabowo, pemanfaatan CNG ini bukan lagi sekadar wacana. Beberapa wilayah di Indonesia sudah mulai mengimplementasikan penggunaannya secara masif dalam kehidupan sehari-hari, contohnya di wilayah Jawa Tengah (Jateng).
"Di Jawa Tengah penggunaan CNG sudah sangat banyak dan akan kita teruskan, dan CNG ada di seluruh Indonesia," tuturnya.
Prabowo menegaskan bahwa sektor energi merupakan pilar vital bagi kelangsungan hidup bangsa. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersyukur atas karunia kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, mulai dari panas bumi, batu bara, hingga cadangan gas alam yang sangat besar.
Optimalisasi CNG ini menurut Prabowo didukung juga oleh penemuan sejumlah ladang gas baru berskala besar di berbagai wilayah strategis Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Contohnya, ladang gas Andaman di Provinsi Aceh, gas Masela di Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku hingga gas Natuna di Provinsi Kepulauan Riau.
"Baru saja kita menemukan ladang gas sangat besar di Andaman. Kita masih punya ladang yang sangat besar di Masela, di Maluku Barat Daya, dan di Natuna. Di Kalimantan kita juga temukan baru saja ladang-ladang besar," jelas Prabowo.
Selain mengandalkan ladang gas konvensional, pemerintah juga melirik potensi pemanfaatan teknologi baru untuk mengeksplorasi sumber energi alternatif lain.
Salah satunya adalah pemanfaatan batu bara di lapisan dalam yang selama ini belum tersentuh menjadi sumber gas atau gasifikasi batu bara.
"Dan juga sekarang ditemukan teknologi untuk membuat gas dari batu bara yang sangat dalam di bawah tanah yang belum termanfaatkan," ujarnya.
(smr/wdh)





























