Logo Bloomberg Technoz

Restorasi Budaya Flores ala Dapur Tara Lewat Desa Wisata

Redaksi
11 July 2026 14:45

Penginapan di Dapur Tara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dok: BCA
Penginapan di Dapur Tara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dok: BCA

Bloomberg Technoz, Jakarta - Saat mendarat di Bandar Udara (Bandara) Komodo, di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pertengahan pekan ini, tak tampak kesan kawasan tertinggal di Indonesia Timur. Labuan Bajo sudah berkembang pesat sejak ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional pada 2016 dan Bandara Komodo masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 2020.

Sejak itu, pembangunan di Manggarai Barat khususnya Labuan Bajo, yang menjadi ibu kota, berkembang pesat. Pembangunan infrastruktur serta adopsi teknologi informasi berdampak pada adaptasi dan penyerapan nilai-nilai modern oleh masyarakat lokal. Apalagi, saat ini Labuan Bajo menjadi destinasi wisata bagi banyak turis asing. 

Inilah yang kemudian menjadi keresahan Elizabeth Yani Tararubi, pemilik dan penggagas komunitas desa wisata Dapur Tara. Liz, demikian ia dipanggil, mulai resah dengan sikap generasi muda Manggarai yang mulai tidak mengenal budaya lokal. 


“Sekarang generasi muda di sini sudah tidak bisa memasak makanan asli lokal, tidak bisa menenun, membuat rajutan dan mengerti adat istiadat setempat,” kata Liz, saat berbincang dengan sejumlah jurnalis dan beberapa peserta Workshop Bakti BCA, di rumah panggung yang menurutnya merupakan replika kapal nenek moyang mereka saat sampai ke Pulau Flores, Rabu (8/7/2026). 

Jarak dari Bandara Komodo ke Dapur Tara, yang terletak di Desa Melo, Liang Ndara, sekitar 21 kilometer. Jarak tersebut ditempuh kurang lebih 40 menit, harus melewati Jalan Trans Flores yang berbukit.