Logo Bloomberg Technoz

Vega juga memaparkan bahwa keputusan untuk melintasi jalur rawan tersebut tidak diambil sembarangan. Mirip dengan prosedur pada Kapal Gamsunoro, pemilihan waktu dan rute pelayaran Pertamina Pride telah melalui penilaian risiko (risk assessment) yang sangat ketat.

Pihak manajemen mencatat ada puluhan persyaratan yang wajib dipenuhi sebelum kapal diizinkan bergerak. Persyaratan tersebut meliputi kesiapan aspek teknis, operasional, jaminan asuransi, faktor keamanan, hingga kesiapan mental dan fisik kru kapal.

Guna memastikan keamanan selama berlayar, PIS menerapkan sistem pemantauan nonstop. Awak kapal yang berada di laut terus terhubung dengan tim darat yang bersiaga di crisis center PIS selama 24 jam penuh. 

Langkah ini terbukti efektif dalam memitigasi risiko di tengah kedinamisan situasi keamanan kawasan tersebut.

Vega menambahkan, keberhasilan keluarnya dua kapal tanker milik PIS dari area konflik ini tidak lepas dari koordinasi taktis dengan otoritas diplomatik Indonesia.

Vega juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pihak yang membantu proses diplomasi dan pengamanan di lapangan.

"Kami menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar RI di Tehran, dan seluruh pihak atas dukungannya selama ini," kata Vega.

Dia menambahkan PIS akan terus memantau situasi keamanan di jalur pelayaran internasional secara intensif

Koordinasi dengan pemangku kepentingan global dan nasional tetap menjadi prioritas perusahaan demi menjamin keselamatan awak kapal, keamanan muatan, serta kelancaran distribusi energi ke tanah air.

"PIS menyampaikan terima kasih atas doa, dukungan, dan perhatian dari seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan sehingga kedua kapal, Gamsunoro dan Pertamina Pride, dapat berlayar keluar dari Selat Hormuz," tutur Vega.

Sebelumnya, kapal tanker Pertamina Pride terpantau telah berhasil melewati Selat Hormuz.

Berdasarkan data situs pelacakan kapal Marine Traffic pada Rabu (8/7/2026), Pertamina Pride sempat berlabuh di kawasan Pelabuhan Jebel Ali, Uni Emirat Arab (UEA), sebelum akhirnya mulai berlayar kembali pada 6 Juli 2026.

Adapun, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron telah menyatakan perizinan teknis untuk melewati Selat Hormuz diurus oleh PIS.

Baron juga menegaskan Pertamina akan terus memantau dinamika yang terjadi di jalur perairan tersebut, sebab gesekan sempat kembali pecah di Selat Hormuz.

“Kita berharap dengan kondisi Selat Hormuz yang masih juga bergejolak, kita juga berharap satu kapal kami lagi yaitu Pride, sedang memproses tetapi tetap akan melihat faktor keselamatan, awak, kargo, dan juga kapalnya sendiri. Jadi kami mohon doanya situasi bisa mereda dan kapal tersebut bisa melintas,” kata Baron kepada awak media di Graha Pertamina, Kamis (2/7/2026).

(smr/wdh)

No more pages