Logo Bloomberg Technoz

Hal ini menggambarkan bahwa SUN berjangka pendek menawarkan yield lebih tinggi daripada SUN berjangka lebih panjang. Umumnya, investor menuntut kompensasi yang lebih besar untuk mengunci dana dalam jangka waktu yang lebih lama. 

Kondisi ini mencerminkan bahwa pelaku pasar sepertinya mulai mengubah ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter dan prospek perekonomian ke depan. 

Di sisi lain, kenaikan yield pada tenor pendek menunjukkan bahwa premi jangka pendek masih relatif tinggi. Pelaku pasar masih mempertimbangkan adanya ketidakpastian yang membayangi dalam beberapa kuartal ke depan.

Seperti, tekanan terhadap rupiah yang membuat rupiah berada di atas Rp18.000/US$, risiko inflasi akibat kembali naiknya harga minyak mentah dunia ke level US$78 per barel, hingga arah kebijakan suku bunga global yang masih belum sepenuhnya pasti. 

Dengan begitu, pasasr masih meminta kompensasi lebih besar untuk memegang obligasi jangka pendek, tetapi tetap optimistis bahwa tekanan tersebut sepertinya akan mereda dalam jangka menengah. 

Di saat yang sama, pergerakan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sudah lebih dulu melonjak. Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, yield SRBI tenor 12 bulan telah bertengger di level 7,67%. 

Lonjakan yield SRBI ini menunjukkan bahwa instrumen moneter Bank Indonesia justru menawarkan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor. Kenaikan yield SRBI ini menjadi cerminan bahwa BI masih mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan eksternal. 

Dalam kondisi tersebut, sebenarnya investor jadi punya lebih banyak alternatif investasi jangka pendek yang memberi imbal hasil relatif tinggi dengan risiko yang lebih rendah. Tak heran jika permintaan terhadap SUN tenor pendek cenderung melemah, sehingga yield naik lebih cepat daripada tenor menengah atau panjang. 

(riset/aji)

No more pages