Harga minyak melonjak, setelah Washington juga mencabut pengecualian (waiver) yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak mentah ke pasar global.
Bagi para pelaku pasar emas, eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve mungkin harus mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama guna mengendalikan inflasi yang masih membandel.
Risalah rapat The Fed bulan Juni yang dirilis pada Rabu menunjukkan bahwa beberapa pejabat melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga, meski pada akhirnya mereka mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap.
Secara lebih luas, risalah tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat bank sentral AS terhadap inflasi, sementara kecemasan mengenai pasar tenaga kerja sedikit mereda.
Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil (yield).
Awal perdagangan emas yang relatif tenang pada Kamis "lebih terasa sebagai keraguan sebelum badai baru ketimbang ketenangan yang sesungguhnya," kata Hebe Chen, analis di Vantage Markets yang berbasis di Melbourne.
"Pasar telah mendengar lonceng peringatan dari Timur Tengah, tetapi belum memperlakukannya sebagai krisis berskala penuh."
Harga emas telah turun lebih dari 20% sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, seiring aksi ambil untung (profit taking) yang mengakhiri reli bullish selama tiga tahun dan baru-baru ini menyeret harga logam tersebut ke bawah US$4.000 per ons.
Namun sejauh ini, masih sedikit bukti bahwa investor mulai membangun posisi jual (short) dalam skala besar untuk mengantisipasi penurunan lebih lanjut.
"Para trader tengah mengamati apakah risiko ini akan berkembang dari sekadar kejutan akibat berita menjadi awal dari siklus baru ketegangan geopolitik, serta seberapa besar dampak rambatannya," kata Chen.
"Sampai ada kepastian mengenai hal tersebut, harga emas kemungkinan masih akan bergerak dalam pola konsolidasi."
Harga emas spot turun 0,1% menjadi US$4.073,48 per ons pada pukul 07.48 waktu Singapura. Harga perak naik 0,2% menjadi US$58,39 per ons.
Platinum dan paladium juga menguat tipis, sementara Bloomberg Dollar Spot Index, yang mengukur kekuatan dolar AS, relatif tidak berubah setelah ditutup sedikit lebih rendah pada sesi sebelumnya.
(bbn)




























