Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menyebut, kenaikan cadangan devisa ini memberi sinyal bahwa masih ada pengurangan cukup besar, terutama pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi BI untuk menjaga rupiah.
Di sisi lain, pelaku pasar akan mencermati efektivitas instrumen moneter Bank Indonesia dalam menarik aliran modal asing. Outstanding Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) tercatat menyusut dari sekitar US$5,6 miliar pada Oktober 2025 menjadi US$2,8 miliar pada Mei 2026.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa daya tarik instrumen valas BI mulai memudar seiring mengecilnya selisih imbal hasil dibandingkan deposito dolar AS.
Analisis Teknikal
Meski begitu, secara teknikal nilai tukar rupiah justru berpotensi menguat pada perdagangan hari ini. Rupiah punya target penguatan menuju Rp17.950/US$ sampai dengan Rp17.900/US$. Level selanjutnya berpeluang lanjut menguat bertahap ke Rp17.800/US$ dengan tertembusnya resistance kuat dari posisi sebelumnya.
Namun jika rupiah melanjutkan tren pelemahan, maka support terdekat dapat menuju Rp18.000/US$. Gerak rupiah dalam support nantinya di antara Rp18.050/US$ sampai dengan Rp18.100/US$.
(riset/aji)






























