Logo Bloomberg Technoz

Sebelum insiden ini pecah, sejumlah lembaga perbankan termasuk Goldman Sachs Group Inc sempat memperingatkan adanya risiko surplus pasokan minyak bumi. Proyeksi itu muncul karena para produsen regional tengah berpacu memulihkan kapasitas produksi mereka dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai berangsur normal. Terlebih, aliansi produsen minyak OPEC+ juga sempat bersiap untuk melonggarkan kebijakan pembatasan pasokan mereka.

"Ini menjadi pengingat bagi pasar bahwa jalur pelayaran di selat tersebut masih sangat rentan. Kondisi ini bertolak belakang dengan sentimen yang berkembang bahwa pasar akan dibanjiri kelebihan pasokan, dan bisa membuat para pelaku pasar yang sebelumnya memasang posisi jual dalam jumlah besar memilih menutup posisi mereka," ujar Kavonic, merujuk pada potensi para trader menghentikan spekulasi terhadap penurunan harga minyak.

Penguasaan Selat Hormuz—yang dalam kondisi normal menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia setiap hari—menjadi salah satu titik perselisihan utama antara Washington dan Teheran. Pada Selasa, Iran juga menyampaikan kepada badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa negara tersebut memiliki kewenangan atas sebagian wilayah perairan selat tersebut.

Secara terpisah, laporan industri di AS menunjukkan persediaan minyak mentah nasional mengalami penurunan tipis, termasuk di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma. Data resmi pemerintah dijadwalkan dirilis pada Rabu.

Pergerakan harga minyak:

  • Minyak mentah WTI untuk pengiriman Agustus naik 2,8% menjadi US$72,41 per barel pada pukul 06.45 waktu Singapura.
  • Minyak mentah Brent untuk pengiriman September ditutup menguat 3% menjadi US$74,16 per barel pada perdagangan Selasa.

(bbn)

No more pages