Meski begitu, mengenai bentuk konkret kolaborasi tersebut—apakah sebatas pertukaran teknologi atau mencakup investasi fisik—Brian menegaskan bahwa arah kerja sama ini bermuara pada hilirisasi domestik.
"Kami tentu akan membangun pabrik industri di Indonesia. Namun, detail bentuk kerja samanya seperti apa, itulah yang sedang kami matangkan," pungkas Brian.
Sebelumnya, Chairman Indonesia Mining Institute sekaligus Guru Besar Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Irwandy Arif mengatakan pengembangan komoditas logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia masih berada dalam tahap eksplorasi awal.
Irwandy menambahkan ketertinggalan inilah yang membuat data sumber cadangan dan potensi produksi LTJ di Indonesia sulit terdeteksi.
“Di Indonesia ini belum ada yang pengalaman. Kondisi LTJ di Indonesia masih di tahap awal, paling tidak di eksplorasi pendahuluan,” ungkap Irwandy dalam agenda Badan Industri Mineral (BIM) yang dilaksanakan secara daring, Rabu (13/05/2026).
Meski begitu, Irwandy menyebut bahwa dalam perkembangannya, Indonesia memang pernah bekerja sama dengan negara lain untuk mengembangkan LTJ, tetapi semuanya berhenti di tahap awal.
“Sampai dengan saat ini, Indonesia belum punya teknologi LTJ yang mencapai skala keekonomian. Mulai dari kita merintis melalui PT Timah dengan kerja sama melalui perusahaan-perusahaan di dunia sudah ada enam [kerja sama], tapi belum tercapai kesepakatan sampai sekarang,” jelasnya.
Adapun, Irwandy menjelaskan data terkait sumber daya dan cadangan logam tanah jarang di Indonesia masih terbatas. Berdasarkan data pada tahun 2023, total sumber daya LTJ di dalam negeri diprediksi mencapai 136.206 ribu ton bijih dan 118.650 ton logam.
Dengan rincian sebagai berikut:
1. Tereka: 128.885 ribu ton bijih (114.236 ton logam)
2. Tertunjuk: 5.499 ribu ton bijih (3.317 ton logam)
3. Terukur: 1.822 ribu ton bijih (1.097 ton logam)
Sebagai catatan, usai BIM dibentuk, Indonesia tengah menggarap dua wilayah pilot plant LTJ, yakni di Tanjung Ular (Bangka Belitung) yang sudah mulai dibangun fasilitasnya, dan di Mamuju (Sulawesi Barat) yang masih dalam tahap penyiapan awal.
Tanjung Ular merupakan fasilitas riset, pengolahan monasit, dan produksi mineral tanah jarang yang digarap PT Timah dan Perminas. Fasilitas ini diproyeksikan untuk memproses mineral ikutan timah, seperti Cerium, Lanthanum, dan Neodymium.
Sementara untuk proyek Mamuju, pemerintah masih menyiapkan pembangunan tahap awal, mengingat daerah tersebut memiliki kandungan LTJ Primer pertama di Indonesia.
— Dengan asistensi laporan dari Dovana Hasiana
(smr/ros)





























