Logo Bloomberg Technoz

Dari dalam negeri, investor menantikan rilis data cadangan devisa esok hari. Sejak Desember tahun lalu, cadangan devisa terus merosot hingga menyentuh US$ 145 miliar per akhir Mei, terendah sejak Juni 2024.

Cadangan devisa mencerminkan kekuatan Bank Indonesia (BI) dalam melakukan intervensi. Saat cadangan devisa solid, maka MH Thamrin punya amunisi yang memadai untuk stabilisasi nilai tukar.

Namun dengan cadangan devisa yang terus tergerus, kemampuan stabilisasi rupiah pun dipertanyakan. Apalagi neraca perdagangan Indonesia akhirnya mencatat defisit pada Mei, memutus rantai surplus yang terjadi selama 72 bulan beruntun.

Sementara dari sisi eksternal, rupiah masih menghadapi ancaman keperkasaan dolar AS. Pada pukul 09:16 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,11% ke 100,968.

Pasar mengantisipasi kebijakan bank sentral AS Federal Reserve yang sepertinya akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama (higher for longer). Dot plot terbaru The Fed menunjukkan bahwa suku bunga acuan sepertinya akan naik setidaknya sekali tahun ini.

“Latar belakang di mana suku bunga akan higher for longer, risiko resesi yang rendah, kecemasan terhadap kebijakan fiskal AS, dan kenaikan suku bunga acuan di Jepang akan memberi tekanan terhadap mata uang Asia,” tulis catatan Goldman Sachs, sebagaimana dikutip dari Bloomberg News.

- Dengan asistensi M Julian Fadli -

(aji)

No more pages