Di saat yang sama, muncul fenomena lipstick theory, yakni kecenderungan masyarakat menunda pembelian aset bernilai besar dan mengalihkannya ke produk-produk premium dengan harga yang lebih terjangkau sebagai bentuk self-reward.
"Kami melihat adanya fenomena lipstick theory, di mana masyarakat cenderung menahan daya beli untuk aset-aset besar dengan mengalihkannya ke barang-barang affordable luxury yang bersifat healer sementara," kata Novi dalam risetnya, dikutip Jumat (26/6/2026).
Fenomena tersebut tercermin dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), yang menunjukkan kategori pakaian dan aksesori masih mendominasi transaksi di marketplace dengan porsi 39,6%, disusul produk kecantikan 18,6%, makanan dan minuman 12,7%, perlengkapan rumah tangga 10%, serta elektronik dan gadget 7,4%. Aktivitas belanja terutama berlangsung melalui Shopee dan TikTok.
Berdasarkan tren tersebut, Novi menilai MAPI menjadi pilihan utama di sektor ritel karena mayoritas pendapatannya berasal dari bisnis ritel yang menjual produk fesyen, kecantikan, active wear, dan teknologi yang sejalan dengan perubahan pola konsumsi masyarakat.
"MAPI paling menarik di sektor ritel seiring kuatnya konsumsi segmen mid-high dan tren belanja lifestyle, didukung pertumbuhan SSSG yang solid, perbaikan inventory days, serta operating leverage yang mulai terlihat," ujar Novi.
Adapun pada kuartal I tahun ini, MAPI membukukan pertumbuhan penjualan 32,2% secara tahunan dengan same store sales growth (SSSG) mencapai 13,3%.
Perseroan juga mencatat margin operasi tertinggi di antara emiten ritel pembanding sebesar 8,55% serta perbaikan inventory days menjadi 118 hari dari 158 hari pada periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan pengelolaan persediaan yang semakin efisien.
Novi pun memproyeksikan penjualan MAPI masih akan tumbuh masing-masing 5,1% pada 2026 dan 9,1% pada 2027.
Selain MAPI, Novi menempatkan ERAA sebagai pilihan kedua berkat pertumbuhan penjualan yang kuat serta dominasinya di segmen smartphone premium.
Namun, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berpotensi meningkatkan harga jual ponsel sehingga dapat menekan volume penjualan.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga berpotensi membatasi penjualan kendaraan bermotor yang menjadi salah satu lini bisnis ERAA.
Sementara itu, ACES mulai menunjukkan pemulihan same store sales growth (SSSG) sejak awal tahun. Namun, prospek perseroan masih dibayangi potensi perlambatan permintaan pada segmen home improvement, yang menyumbang lebih dari separuh pendapatan perusahaan, seiring melambatnya penjualan properti residensial.
Adapun PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dinilai tetap menjadi pilihan defensif berkat jaringan gerai yang telah mapan, strategi peningkatan penjualan di gerai yang sama (same store sales growth), serta pengembangan kanal omnichannel.
Secara keseluruhan, Panin Sekuritas mempertahankan rekomendasi Neutral untuk sektor ritel.
Hal itu seiring dengan ruang pertumbuhan sektor ini yang masih terbuka, didukung meningkatnya daya beli segmen menengah atas, fenomena lipstick theory, optimalisasi jaringan gerai dan penjualan daring, serta valuasi saham yang telah berada pada level menarik.
Di sisi lain, pergerakan saham emiten ritel masih menunjukkan kinerja yang beragam. Hingga perdagangan Jumat (26/6) pukul 15.00 WIB, saham MAPI berada di level Rp1.515 atau turun 0,33% pada perdagangan hari ini. Meski demikian, sahamnya masih menguat sekitar 30,04% secara year to date (YTD).
Sementara itu, saham AMRT naik 0,69% ke level Rp1.460, namun masih terkoreksi 26,08% sejak awal tahun. Adapun saham ERAA melemah 1,11% ke level Rp356 dengan penurunan 12,75% secara year to date.
Di sisi lain, saham ACES bergerak stagnan di level Rp338, tetapi masih melemah 17,56% sepanjang tahun berjalan.
(cpa/naw)



























