Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro menyatakan rencana kerja sama dengan Yunnan Tin Co. Ltd. masih terus berlanjut hingga saat ini. Menurut dia, perwakilan raksasa timah asal China itu telah menyambangi Indonesia belum lama ini.

Setelah itu, lanjut restu, perwakilan TINS akan membalas kunjungan Yunnan Tin dengan melakukan kunjungan ke China paling lambat pada bulan depan.

“Sampai sekarang rutin tetap. Mungkin bulan ini atau bulan depan, masih kita tunggu apakah kami yang harus ke sana. Kemarin timnya Yunnan Tin sudah datang ke Indonesia, nanti giliran kami yang ke sana,” kata Restu ditemui awak media di usai rapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (22/9/2025).

TINS telah menandatangani kerja sama dengan Yunnan Tin pada Agustus 2024. Kerja sama itu berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya mineral, pertambangan, teknologi smelter, perdagangan internasional, pertukaran informasi, serta pengembangan produk hilir.

Kerja sama dengan Yunnan Tin itu terbilang strategis untuk mendorong posisi TINS di pasar global. Alasannya, Yunnan Tin saat ini menguasai sekitar 50% pasar timah. Sementara itu, TINS menguasai sekitar 13% sampai dengan 15% pasar timah.

Sekadar catatan, hingga kuartal I-2026 TINS memproduksi bijih timah sebesar 6.312 ton Sn atau naik 96% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 3.225 ton Sn.

Selain itu, produksi logam timah naik 82% menjadi 5.630 metrik ton Sn dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 3.095 metrik ton Sn. Sedangkan penjualan logam timah naik 113% menjadi 6.009 metrik ton dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 2.824 ton.

Kemudian, perseroan mencatat harga jual rata-rata logam timah sebesar US$49.221 per metrik ton atau naik 51% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$32.495 per metrik ton.

Pada kuartal I-2026, penjualan logam timah TINS didominasi oleh pasar ekspor sebesar 97%, sementara penjualan domestik sebesar 3%. Adapun enam negara tujuan ekspor utama meliputi; China 48%, India 11%, Korea Selatan 10%, Italia 6%, Singapura 5%, dan Belanda 4%.

Adapun, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn pada 2025, turun 4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 19.437 ton Sn.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya masih masifnya penambangan ilegal terutama pada lokasi pesisir oleh Ponton Isap Produksi (PIP) maupun tambang darat dan adanya penolakan masyarakat pada lokasi penambangan baru.

Seiring dengan menurunnya produksi bijih timah, produksi logam timah juga mengalami penurunan sebesar 6% menjadi 17.815 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 18.915 metrik ton.

Adapun penjualan logam timah turun 5% menjadi 16.634 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 17.507 metrik ton.

Harga jual rata-rata logam timah sebesar US$35.240 per metrik ton, naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$31.181 per metrik ton.

Pada 2025, TINS mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 5% dan ekspor logam timah sebesar 95% dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Singapura 23%; Korea Selatan 21%; Jepang 17%; Belanda 7%; Italia 3%; dan China 3%.

Kontribusi penjualan ekspor perseroan mencapai sekitar 24% dari total ekspor timah Indonesia sebesar 53.050 metrik ton, serta menyumbang sekitar 3% dari total ekspor timah global sebesar 371.369 metrik ton.

(azr/naw)

No more pages