Bank juga dilarang mengambil posisi beli dolar dan melakukan transaksi spekulatif, seperti dikutip Bloomberg News.
Di pasar obligasi, pergerakan imbal hasil mencerminkan adanya aksi beli masih berlanjut hingga sesi perdagangan sore ini. Yield tenor 1 tahun mulai turun 2,3 basis poin (bps) ke posisi 7,23%.
Tenor 5 tahun masih mencatat reli, dan mencatat pemangkasan imbal hasil paling tajam 19 basis poin ke 7,29%. Disusul tenor 11 tahun, turun 12,3 bps ke 7,4%. Sedangkan tenor acuan 10 tahun turun 2,8 bps ke 7,41%.
Sejak kenaikan BI Rate di luar jadwal bulanan, yield obligasi 10 tahun tercatat naik lebih dari 50 bps. Dengan begitu, selisih yield obligasi pemerintah RI tenor 10 tahun dengan obligasi pemerintah AS kini melonjak hingga di atas 290 bps.
"Kami memperkirakan spread harus mencapai minimal 300 bps agar arus dana asing mulai kembali masuk. Pada 2024 dan 2025, level serupa berhasil menarik permintaan asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia," kata Chandresh Jain, ahli strategi suku bunga dan valas di BNP Paribas, seperti dikutip Bloomberg News.
Pasar Valas Asia
Sementara, terpangkasnya harga minyak mentah membawa angin segar bagi pasar valas kawasan. Hampir semua mata uang Asia bergerak menguat.
Sepanjang pekan, won Korea Selatan menguat paling signifikan, disusul rupiah yang menguat empat hari beruntun, dan menempati posisi kedua terkuat di Asia.
Mata uang negara-negara Asia pengimpor minyak menguat setelah harga minyak turun dengan sinyal ketegangan AS-Iran mulai mereda.
Bagi mata uang won, penguatan hari ini juga didukung oleh reli di pasar saham yang tertopang oleh masuknya dana asing ke beberapa saham teknologi.
Selain won dan rupiah, mata uang dolar Singapura, yuan offshore, yuan China, peso Filipina, dan yen Jepang juga mencatat penguatan. Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah bersama dolar Taiwan, rupee India, baht Thailand, dan dolar Hong Kong.
(dsp)




























