Naiknya kepemilikan asing ini jadi sinyal bahwa instrumen rupiah kembali menawarkan imbal hasil serta stabilitas yang masih menarik bagi investor global. Kala investor asing mulai menempatkan dana pada instrumen jangka pendek BI, kondisi tersebut dapat mencerminkan membaiknya persepsi terhadap stabilitas pasar keuangan domestik, dan adanya peluang investor dalam memperoleh keuntungan dari strategi carry trade.
Sebaliknya, pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 1 tahun cenderung terbatas, dan berdasarkan data Bloomberg per 10:40 WIB hari ini tercatat naik 0,5 bps di level 7,26%, sementara imbal hasil SRBI 12 bulan telah mencapai 7,57%.
Menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, minimnya pergerakan pada tenor 1 tahun mengindikasikan BI mungkin tengah berupaya menahan kenaikan yield jangka pendek agar tidak sepenuhnya mengikuti penyesuaian imbal hasil SRBI.
Dia menambahkan, kenaikan imbal hasil pada instrumen surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah dan bank sentral berpotensi memengaruhi dinamika pasar obligasi korporasi, terutama di tengah periode bookbuilding yang biasanya ramai pada Juni.
"Saat ini, aktivitas bookbuilding obligasi dan sukuk korporasi lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," katanya.
Jika imbal hasil tenor pendek bergerak terlalu agresif mengikuti kenaikan imbal hasil instrumen BI, biaya pendanaan emiten berpotensi meningkat dan pada akhirnya menahan minat perusahaan untuk masuk ke pasar surat utang.
Likuiditas Tertahan di SRBI
Di balik keberhasilan BI menarik investor asing melalui kenaikan imbal hasil SRBI, sepertinya transmisi kebijakan moneter ke sektor produktif jadi kian tertahan.
Dalam data kepemilikan SRBI bulan Mei itu juga tercatat perbankan terus menambah bagiannya hingga mencapai Rp677,89 triliun. Secara porsi, sektor perbankan kini menguasai sekitar 69,2% dari total outstanding SRBI.
Dominasi bank dalam kepemilikan SRBI mengindikasikan bahwa likuiditas domestik masih banyak terserap ke instrumen moneter BI. Dengan kata lain, dana yang tersedia di sistem perbankan kini lebih banyak ditempatkan pada aset yang aman dan likuid daripada disalurkan ke sektor riil melalui kredit.
Sepertinya sikap perbankan ini bisa dimaklumi lantaran terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, serta kondisi keyakinan konsumen yang masih menggambarkan lemahnya daya beli masyarakat.
Sehingga, instrumen BI yang menawarkan imbal hasil yang relatif kompetitif dengan risiko yang jauh lebih rendah daripada penyaluran kredit, menjadi primadona sektor perbankan dalam memarkirkan uangnya di bank sentral daripada mengalirkannya ke sektor riil.
(dsp/aji)




























