Sektor obligasi pemerintah AS (Treasury) turut mengalami reli pada hari Kamis, yang menyebabkan imbal hasil (yield) turun di semua tenor akibat merosotnya harga minyak. Nilai tukar dolar AS pun terpantau melemah secara luas.
Upaya terbaru menuju kesepakatan damai ini telah mendongkrak sentimen risiko pasar dengan menumbuhkan harapan bahwa perluasan konflik di Timur Tengah dapat dihindari. Alhasil, fokus investor kini beralih kembali pada kinerja laba perusahaan yang kuat serta reli saham yang didorong oleh tren kecerdasan buatan (AI). Investor menilai de-eskalasi konflik ini akan melenyapkan sumber ketidakpastian utama di pasar sekaligus mengurangi ancaman gangguan pasokan energi yang selama ini memicu volatilitas harga minyak.
“Meskipun jalur menuju resolusi kemungkinan besar tidak akan mulus, skenario dasar kami menunjukkan bahwa jalur diplomasi pada akhirnya akan menang. Hal ini memungkinkan investor untuk kembali fokus pada fundamental ekonomi yang tangguh dan pertumbuhan laba perusahaan yang kuat,” ujar Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office.
Keputusan Trump membatalkan ancaman serangan militer terhadap Iran menjadi perubahan sikap yang mencolok. Langkah itu diambil hanya beberapa jam setelah ia berjanji akan menyerang Republik Islam tersebut dengan “SANGAT KERAS” dan mengancam akan mengambil alih infrastruktur minyak Iran.
Saat ditanya apakah Pemimpin Tertinggi Iran telah menyetujui kesepakatan tersebut, Trump menjawab, “Setahu saya jawabannya adalah ya.” Namun, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, sebelumnya pada Kamis melaporkan bahwa para pejabat Iran belum menyetujui naskah kesepakatan apa pun dengan AS, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.
Para pelaku pasar kini antusias karena serangan udara dibatalkan dan muncul prospek “penyelesaian besar”, tetapi hingga kini belum ada perjanjian yang benar-benar ditandatangani, kata Chief Executive Officer Roundhill Financial, Dave Mazza.
“Masih ada potensi kenaikan yang signifikan jika kesepakatan benar-benar ditandatangani karena harga minyak dan volatilitas pasar masih mencerminkan risiko konflik yang cukup besar. Jika tidak terjadi, maka penguatan hari ini hanyalah pinjaman sementara, dan pasar akan meminta kembali keuntungan itu beserta bunganya karena kita pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya,” tulis Mazza.
Komentar Trump mendorong penurunan imbal hasil obligasi AS di seluruh tenor sebesar 8 hingga 11 basis poin pada Kamis, ke level terendah dalam sepekan, sekaligus menekan nilai dolar AS. Kontrak suku bunga jangka pendek yang mencerminkan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) — yang sebelumnya sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada Desember — kini menggeser perkiraan tersebut ke kuartal pertama tahun 2027.
Pergerakan pasar obligasi yang dipengaruhi harga minyak juga dipengaruhi oleh rilis data inflasi AS yang menunjukkan kenaikan harga produsen pada Mei lebih tinggi dari perkiraan ekonom. Namun, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan tercatat meningkat lebih rendah dari perkiraan.
“Banyak pihak mengatakan kepada kami bahwa mereka meyakini fase terburuk dari data inflasi sudah berlalu,” kata Tony Farren, Managing Director bidang penjualan dan perdagangan suku bunga di Mischler Financial Group. Menurutnya, kenaikan inflasi inti yang lebih rendah dari perkiraan meskipun harga energi meningkat “telah mengubah cara pandang pasar obligasi pemerintah AS, setidaknya untuk sementara waktu.”
(bbn)



























