Di sisi lain, Yannes menyebut pasar otomotif terbesar di Indonesia, yaitu segmen low cost green car (LCGC), tidak terganggu oleh isu kenaikan BBM non-subsidi ini. Pasalnya, bahan bakar jenis Pertalite yang menjadi tumpuan segmen ini harganya tetap stabil.
"Pengaruhnya ada, tetapi proporsional dan terbatas so far. Kenaikan ini hanya menyentuh pengguna Pertamax (segmen middle upper class), sementara pasar massal LCGC yang ditopang Pertalite tetap stabil. Tekanan utama sales saat ini lebih disebabkan pelemahan daya beli secara keseluruhan daripada harga BBM nonsubsidi," ungkap Yannes.
Melihat dinamika tersebut, Yannes memproyeksikan bahwa kendaraan hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan Range Extended Electric Vehicle (REEV) akan mendominasi panggung transisi otomotif nasional sebelum pasar benar-benar siap menerima BEV secara massal.
Teknologi hybrid dinilai menjadi solusi paling instan dan logis bagi masyarakat saat ini karena menawarkan efisiensi bahan bakar yang tinggi tanpa menuntut kesiapan infrastruktur pengisian daya.
"Di sini, hybrid justru berpotensi paling diuntungkan karena menawarkan penghematan BBM tanpa memerlukan infrastruktur charging dan tanpa premi harga setinggi BEV," pungkas Yannes.
Situasi ini diprediksi akan membuat raksasa industri otomotif Jepang di Indonesia memilih strategi bermain aman.
“Mereka kemungkinan besar akan memperluas pilihan varian hybrid untuk segmen menengah ke bawah (low segment) dan memasukkan produk EV secara bertahap, alih-alih langsung melakukan lompatan radikal ke mobil listrik murni,” tutupnya.
Sebelumnya, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat sepanjang Januari-Desember 2025 penjualan secara wholesales hanya tercatat sebesar 803.687 unit saja atau mengalami penurunan hingga 7,2% secara year-on-year.
Secara retail sales, penjualan di tahun 2025 hanya tercatat sebesar 803.687 saja. Sehingga apabila dibandingkan dengan yoy 2024, penjualan mobil tercatat turun 6,3% dari angka 889.680 unit.
Di bulan Desember 2025, penjualan mobil wholesales di Indonesia sepanjang Desember 2025 tercatat sebanyak 94.100 unit atau naik 25,7% dibandingkan Desember 2024 sebesar 74.853 unit. Kenaikan juga terjadi sekitar 22,7% untuk ritel.
Sementara itu, angka penjualan low cost green car (LCGC) hingga akhir tahun 2025 ini terhitung sebesar 122.688 unit kendaraan. Artinya, terdapat penurunan sebesar 30,6% apabila dibandingkan dengan penjualan LCGC di tahun 2024 yang lalu.
Sedangkan, untuk tahun ini Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan penjualan mobil secara nasional di angka 850 ribu unit.
“Proyeksi penjualan mobil nasional pada tahun ini 850.000 unit dari total kapasitas produksinya yang tadi saya sampaikan sekitar 2,5-2,6 juta kita memproyeksikan 850.000 unit” kata Agus dalam pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, Kamis (5/2/2026).
Agus bilang bahwa angka ini merupakan angka yang cukup konservatif. Ia berharap pada akhir tahun 2026 ini, angka tersebut bisa tercapai, terlebih angka ini lebih besar ketimbang angka penjualan roda empat di tahun 2025 yang lalu.
“Walaupun meningkat sekitar 5,4% dibandingkan realisasi penjualan sepanjang tahun 2025 yang hanya tercatat 8303 unit meskipun demikian, target proyeksi yang saya sampaikan tadi 850.000 unit masih belum cukup kuat” tambah Agus.
(ain)
































