Logo Bloomberg Technoz

Dampak Harga BBM: Penjualan EV Potensi Naik, Tapi Terbatas 

Sabrina Mulia Rhamadanty
11 June 2026 10:00

Warga mengisi daya mobil listrik di SPKLU Gambir, Jakarta, Kamis (23/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga mengisi daya mobil listrik di SPKLU Gambir, Jakarta, Kamis (23/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax rupanya tidak serta-merta menjadi angin segar bagi percepatan adopsi kendaraan listrik murni atau Electric Vehicle (EV) di Indonesia. 

Yannes menilai konsumen akan lebih realistis untuk melirik mobil berteknologi hybrid sebagai jembatan transisi. Sedangkan, lonjakan penjualan mobil listrik masih bersifat marginal dan sangat terbatas pada segmen tertentu saja.

"Potensinya ada [peningkatan pembelian EV], tetapi bersifat marginal dan terbatas pada segmen tertentu saja. Kenaikan Pertamax bisa menjadi dorongan tambahan bagi konsumen middle upper class yang sudah mempertimbangkan EV. Tetapi, keputusan beralih tidak ditentukan oleh harga BBM semata," ujar Yannes saat dihubungi Rabu (10/6/2026).


Menurut Yannes, mayoritas konsumen belum siap melakukan lompatan besar ke kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) karena beberapa hambatan struktural yang krusial.

"Hambatan utama tetap harga beli yang lebih tinggi, kekhawatiran nilai jual kembali, dan keterbatasan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum)," tambahnya.