Telaah Unsur Tanah Jarang di Bauksit, Buntut Ekspor Alumina Macet
Azura Yumna Ramadani Purnama
28 July 2026 10:10

Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekspor alumina dari Indonesia sempat tersendat di Bea dan Cukai sebab harus menjalankan pemeriksaan kandungan logam tanah jarang (LTJ) dan unsur radioaktif, sebagai upaya mencegah ekspor LTJ ilegal.
Berdasarkan data Balai Besar Pengujian Mineral dan Batu Bara (Tekmira) Ditjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), residu pengolahan bahan baku alumina—yaitu bauksit atau red mud — menyimpan berbagai unsur LTJ alias rare earth element (REE).
Tekmira menjelaskan red mud hasil pengolahan alumina mengandung sedikitnya 15 unsur LTJ, yakni; scandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), tulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutetium (Lu).
Dari unsur-unsur tersebut, kandungan terbesar berasal dari tulium dan neodymium yang masing-masing mencapai 171 ppm, diikuti erbium dan praseodymium sebesar 150 ppm, cerium dan holmium masing-masing 140 ppm, scandium dan europium masing-masing 53 ppm, serta lantanum dan dysprosium masing-masing 50 ppm.
Sementara itu, kandungan ytterbium, lutetium, yttrium, gadolinium, dan samarium tercatat berada di bawah 6 ppm hingga 2 ppm.
































