Logo Bloomberg Technoz

Saat Nikel Bullish, Smelter RI Terdampak Harga Ore & Biaya Energi

Azura Yumna Ramadani Purnama
10 June 2026 12:20

Pengupasan terak konverter di pabrik pengolahan nikel. Fotografer: Dimas Ardian/Bloomberg
Pengupasan terak konverter di pabrik pengolahan nikel. Fotografer: Dimas Ardian/Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memandang industri smelter di Indonesia justru tengah mengalami tekanan biaya produksi dan kenaikan harga bijih ketika tren harga logam dasar justru sedang bullish.

Ketua Umum FINI Arif Perdanakusumah menyatakan harga logam nikel di London Metal Exchange (LME) maupun Shanghai Metals Market (SMM) memang sedang mengalami kenaikan, salah satunya dipengaruhi pemangkasan produksi Indonesia dan revisi formula harga patokan mineral (HPM) nikel.

Akan tetapi, Arif menegaskan saat ini industri smelter nikel sedang memikul beban berganda dari kenaikan biaya energi dan kenaikan harga bijih nikel gegara formula HPM baru tersebut.


“Jadi kita harus melihatnya itu secara holistik, tidak hanya dari kenaikan harga komoditas yang mana itu lebih dipicu karena sentimen sesaat dan juga dipicu karena adanya kekurangan pasokan, tetapi tidak melihat isu secara keseluruhan dari sisi biaya produksi,” kata Arif kepada Bloomberg Technoz, di sela Indonesia Critical Mineral Conference, belum lama ini.

Nikel cair matte di Pabrik Peleburan Nikel Vale Copper Cliff di Sudbury, Ontario, Kanada./Bloomberg-Cole Burston

Efek HPM