Arif menuturkan smelter nikel pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) memikul kenaikan biaya energi dari melonjaknya harga solar industri dan harga batu bara.
Terlebih, formula HPM baru yang mengerek harga bijih atau ore nikel telah menambah biaya operasional hingga US$600/ton.
“Kemudian juga dari energi, biaya energi. Biaya energi ini apalagi kalau teknologi pirometalurgi itu kan membutuhkan tidak hanya bahan bakar minyak bumi ya, tetapi juga batu bara untuk PLTU-PLTU. Nah, itu kan mengalami kenaikan,” ujar Arif.
Sementara itu, smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) juga sudah mengalami kenaikan biaya operasional sebesar US$2.400—US$2.600 per ton sejak HPM baru diterapkan.
Smelter HPAL, kata Arif, juga memikul beban yang cukup besar dari lonjakan harga sulfur yang saat ini sudah naik berkali-kali lipat.
“Jadi margin yang ada di pelaku usaha HPAL ini juga sudah sangat rentan sekali. Jangan sampai kebijakan-kebijakan fiskal jangka pendek yang akan keluar nantinya justru akan memperburuk kondisi ini,” tegas Arif.
Adapun, Shanghai Metals Market (SMM) memprediksi harga bijih nikel kadar rendah Indonesia bakal melonjak hingga ke level US$48,18/ton basah atau wet metric ton (wmt) usai pemerintah merevisi HPM nikel dengan turut menghitung mineral bawaan dalam bijih nikel.
SMM memprediksi HPM baru untuk bijih nikel berkadar 1,2% akan naik signifikan menjadi US$40,18/wmt atau lebih tinggi 151% dibandingkan dengan HPM lama yang berada di sekitar US$16—US$17 per wmt. Saat ini, SMM mencatat harga rata-rata bijih tersebut sekitar US$30,5/wmt.
Sementara itu, HPM bijih nikel saprolit atau dengan kadar nikel sekitar 1,5% diprediksi bakal berada di level US$57,13/wmt atau masih berada dibawah rata-rata harga bijih saprolit yang tercatat sebesar US$70,7/wmt.
Adapun, sulfur sendiri digunakan sebagai bahan baku dalam produksi produk antara nikel seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), melalui proses HPAL. Memproduksi 1 ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur. Adapun, MHP merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Pada 2025, sulfur freight on board (FoB) Timur Tengah tercatat sekitar dari sekitar US$170/ton dan per April 2026 telah mengalami kenaikan harga ke level US$520/ton atau mengalami peningkatan lebih dari 200%.
Berdasarkan data Platts (bagian dari S&P Global Energy), per 28 Mei 2026 harga sulfur dari Timur TEngah telah mencapai US$815 hingga US$820 per ton. Bahkan, untuk sulfur yang berasal dari Brasil pada tanggal yang sama menyentuh US$1.200/ton.
SMM mencatat lebih dari 75% impor sulfur indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah.
Pada 2025, Arab Saudi menjadi pemasok terbesar sekitar 1,76 juta ton, Qatar sebanyak 967.000 ton, UEA 918.000 ton, Kanada 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia 146.000 ton, dan Singapura sebesar 115.000 ton.
Adapun, harga nikel sedang bagus dan terus bertahan di level US$18.000/ton di London Metal Exchange (LME). Nikel dilego di harga US$18.064/ton Rabu (10/6/2026) pagi, turun 1,51% dari penutupan sebelumnya.
Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah di bawah US$14.000/ton dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.
Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.
(azr/wdh)
































