Namun, langkah ini berisiko membuat proses negosiasi perpanjangan gencatan senjata kian membeku. Pasalnya, perundingan untuk mengakhiri perang saat ini sudah buntu akibat tuntutan Teheran yang bersikeras meminta pencairan aset finansial mereka yang dibekukan AS senilai US$24 miliar. Kebijakan keras AS ini juga berpotensi menjauhkan peluang pembukaan kembali Selat Hormuz serta kelanjutan dialog program nuklir Iran.
Eskalasi serangan rudal ini menjadi bukti kegagalan Washington dan Teheran dalam mencapai titik temu. Selain masalah pembekuan aset, beberapa poin krusial lain yang masih mengganjal adalah draf gencatan senjata paralel antara Israel dan Lebanon.
Di tengah situasi yang memanas, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi dilaporkan tiba di Teheran pada hari Sabtu kemarin. Menurut laporan kantor berita semi-pemerintah Iranian Students' News Agency (ISNA), Naqvi datang untuk menyampaikan pesan khusus dari Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Presiden AS Donald Trump, yang selama berbulan-bulan bersikeras bahwa Iran berada di ambang titik kritis, pada Jumat mengakui bahwa negara tersebut masih memiliki sebagian kemampuan rudal dan drone. Dalam wawancara dengan NBC News, ia mengatakan sekitar 21% hingga 22% persenjataan rudal Iran masih tersisa.
"Itu masih banyak rudal, tetapi tidak sebanyak ketika kami pertama kali menyerang," kata Trump kepada jaringan televisi tersebut saat berkunjung ke Wisconsin.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS "meraih keberhasilan besar dengan Iran" dan bahwa "mereka tidak berada dalam posisi untuk memiliki senjata nuklir."
Gencatan senjata menghadapi ujian terberatnya pada Rabu ketika serangan Iran menewaskan satu orang di bandara utama Kuwait dan melukai puluhan lainnya. Bahrain juga menjadi sasaran serangan, sementara AS menyerang sebuah kapal tanker minyak yang menuju Iran. Kuwait, sekutu dekat AS, menjadi salah satu target utama Teheran selama masa gencatan senjata yang disepakati pada awal April.
Pertempuran antara pasukan Israel dan milisi Hizbullah yang didukung Teheran juga terus berlanjut pada Sabtu. Awal pekan ini, Hizbullah menolak gencatan senjata yang dimediasi AS, yang diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS hanya beberapa jam sebelumnya.
Iran menuntut adanya gencatan senjata di Lebanon sebelum kesepakatan dengan Amerika Serikat dapat dicapai. Seorang penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan kepada CNN bahwa "bola kini berada di tangan Trump" terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Trump berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan normalisasi pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang penutupannya sejak awal perang telah memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran akan gelombang inflasi baru. Kenaikan harga bahan bakar, yang menjadi isu sensitif bagi pemilih Amerika, berpotensi merugikan Partai Republik dalam pemilu sela yang akan digelar dalam beberapa bulan mendatang.
Presiden AS itu kembali meremehkan dampak kenaikan harga minyak pada Jumat.
"Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk," ujarnya kepada wartawan. "Hari ini saya melihat harga minyak sekitar US$96 per barel. Banyak yang memperkirakan harganya akan mencapai US$300 per barel."
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri pekan di atas level US$90 per barel, sementara minyak acuan global Brent ditutup mendekati US$93 per barel. Meskipun harga kontrak telah turun dari puncaknya sejak perang dimulai pada 28 Februari, level saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.
(bbn)

























