Logo Bloomberg Technoz

Inflasi Meluas, Harga Minyak Beringas, Rupiah Sulit Bernapas

Tim Riset Bloomberg Technoz
03 June 2026 08:27

Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) membuka perdagangan hari ini nyaris tidak berubah di Rp17.867/US$, sebelum bergerak melemah tipis ke Rp17.877/US$ pada pukul 07:30 WIB.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih belum sepenuhnya mereda, meskipun sempat menguat pada sesi penutupan perdagangan sebelumnya.

Nilai kontrak rupiah di luar negeri dalam tiga hari terakhir, pada Rabu (3/6/2026) pagi. (Bloomberg)

Sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan. Indeks dolar AS bertahan tinggi di level 99,25, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap aset-aset berbasis dolar di tengah meningkatnya ketidakpastian global.


Di saat yang sama, harga minyak Brent kembali melonjak ke US$96,91 per barel, memperpanjang tren kenaikan yang dipicu oleh gangguan pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Mata uang kawasan yang telah membuka perdagangan pagi ini juga cenderung bergerak terbatas. Investor masih menimbang dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi regional.