Kerentanan rupiah hari ini berasal dari faktor global dan domestik. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, pelaku pasar global saat ini masih menunggu kepastian kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menurut Josua, memang ada kabar positif bahwa kedua pihak mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata 60 hari, dan harga minyak Brent turun ke sekitar US$92,85 dolar AS per barel, setelah selama beberapa pekan bertahan di atas US$100 per beral. Namun, kesepakatan itu masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump, sementara analisis satelit aktivitas energi di kawasan Teluk belum sepenuhnya normal meski sudah ada gencatan senjata.
"Artinya, risiko minyak turun memang membantu rupiah, tetapi risiko geopolitik belum hilang sepenuhnya," kata Josua.
Dari sisi domestik, tekanan rupiah lebih berat karena pasar masih melihat kebutuhan dukungan struktural, bukan hanya intervensi jangka pendek. Pelaku pasar masih menunggu dukungan yang lebih kuat dari masuknya Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan disiplin transaksi berjalan.
"Ini penting karena selama pasokan dolar dari ekspor belum cukup kuat, sementara kebutuhan dolar untuk impor, utang luar negeri, dividen, dan energi tetap tinggi, rupiah akan mudah tertekan setiap kali ada guncangan sentimen" kata Josua.
Sebagai catatan, pelaku pasar saat ini masih mencermati kebijakan baru yang mewajibkan eksportir menempatkan DHE di dalam negeri. Namun, para trader meragukan aturan tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan cadangan devisa. Sebab, dana tersebut pada dasarkan tetap berada di bawah kendali eksportir meskipun disimpan dalam sistem keuangan domestik.
Terpisah, Harry Su, Managing Director Research di Samuel Sekuritas, mengatakan faktor pemberat rupiah berasal dari pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan.
Pekan lalu, Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 yang tercatat defisit US$9,15 miliar. Jauh lebih dalam daripada defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.
Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan sekitar US$6,5 miliar.
Selain itu, Harry menambahkan rupiah juga masih dibayangi risiko penurunan prospek atau peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global seperti Moody's, S&P, atau Fitch akan memicu kepanikan investor obligasi dan menambah aliran modal keluar.
Sehingga, pelaku pasar sepertinya akan semakin berhati-hati menjelang rilis data inflasi Mei dan neraca perdagangan April pada pekan depan. Risiko terhadap perekonomian Indonesia terus meningkat di tengah kenaikan harga energi, sementara ekspor periode Maret mengalami kontraksi.
Harry mengatakan, meskipun sulit, level psikologis baru rupiah di Rp18.000/US$ masih mungkin bisa dihindari.
"Apabila BI mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, memanfaatkan momentum redanya ketegangan geopolitik global, serta pemerintah melakukan langkah-langkah yang konkrit untuk meredam kekahwatiran pasar," katanya.
Sementara, menurut Josua, jika ada tambahan permintaan dolar dari korporasi, arus keluar portofolio, tekanan teknis menjelang penyesuaian indeks MSCI, atau sentimen global kembali memburuk, rupiah dapat menguji level Rp18.000/US$.
"Namun, menurut saya skenario dasar bukan rupiah langsung menetap jauh di atas Rp18.000/US$, melainkan bergerak sangat bergejolak di sekitar Rp17.800/US$ sampai Rp18.000/US$ sambil menunggu respons BI dan kejelasan sentimen global," katanya.
Pekan depan, akan ada rilis sejumlah data ekonomi domestik. Beberapa data yang akan menggerakkan rupiah pekan depan di antaranya capaian ekspor-impor tahunan (2 Juni), data inflasi (2 Juni), dan cadangan devisa (8 Juni).
Di tengah tekanan rupiah yang masih persisten pada Mei, UBS dan Barclays bahkan memproyeksikan BI akan mengerek BI Rate ke 5,75%, alias sebanyak 50 basis poin (bps).
UBS meramal bahwa BI kemungkinan akan kembali mengerek tingkat suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin masing-masing pada Juni dan Agustus. Sementara, Barclays meramal kenaikan ini akan terjadi pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) berikutnya, jika rupiah terus melemah secara konsisten mejelang RDG terdekat.
(dsp/aji)




























