Dia juga menyatakan ketersediaan BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, hingga solar CN 51 masih mencukupi secara nasional.
“Dan juga non-subsidi pun kita amankan seperti CN51, Pertamax, dan juga Pertamax Turbo ini cukup secara nasional,” lanjut Yuliot.
Rupiah di pasar spot bergerak melemah 0,4% ke level Rp17.865/US$, pada sesi perdagangan pukul 09.58 WIB. Volatilitas tersebut sejatinya merupakan kelanjutan dari gejolak yang telah terlihat di pasar luar negeri selama libur dua hari lalu.
Kemarin, rupiah offshore sempat mendekati level psikologis Rp18.000/US$, tepatnya Rp17.984/US$ pukul 10:57 WIB.
Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat berjanji harga BBM Pertalite dan Solar, serta gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 Kg tidak mengalami kenaikan harga pada tahun ini.
Dia menyatakan meski harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) berada di level US$100 per barel, namun harga komoditas migas bersubsidi tersebut bakal tetap ditahan oleh pemerintah.
“Saya janji kepada bapak-ibu semua ya sampai 31 Desember sekalipun harga ICP US$100 [per barel] insya Allah harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik,” ujar Bahlil dalam pidatonya di acara Himpunan Alumni IPB, ditayangkan daring, Sabtu (2/5/2026).
Sekadar informasi, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan realisasi serapan Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) Solar per 17 Mei 2026 mencapai 7,04 juta kiloliter (kl), lebih besar 50.090 kl dibandingkan dengan kuota per tanggal tersebut yang sebanyak 6,99 juta kl.
Meskipun begitu, realisasi penyaluran JBT Solar sampai dengan pertengahan bulan ini masih setara dengan 37,8% dari kuota subsidi sepanjangn 2026 yang ditetapkan sejumlah 18,6 juta kl.
Di lain sisi, BPH Migas melaporkan penyaluran Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite pada periode tersebut mencapai 10,45 juta kl atau lebih kecil 525.646 kl dari kuota per 17 Mei sebesar 10,98 juta kl.
Jika dibandingkan dengan kuota sepanjang 2026, realisasi penyaluran Pertalite mencapai 35,74% dari kuota sebesar 29,26 juta kl.
Berdasarkan data BPH Migas per 18 Mei 2026, ketahanan stok BBM bersubsidi jenis Pertalite dilaporkan sebesar 16 hari, sementara standar minimum yang ditetapkan pemerintah tercatat sebesar 18,2 hari.
Stok Pertalite per 18 Mei 2026 mencapai 1,37 juta kl, dengan rencana penyaluran harian atau daily objective throughput (DOT) mencapai 85.560 kl per hari.
Untuk Pertamax (RON 92), stok nasional tercatat 561.022 kl dengan rencana penyaluran harian sebesar 20.153 kl per hari, sehingga ketahanan pasokan mencapai 19,9 hari atau di atas batasan minimum sebanyak 27,8 hari.
Sementara itu, Pertamax Turbo (RON 98) memiliki stok 72.125 kl dengan rencana penyaluran harian sebesar 1.169 kl per hari, sehingga ketahanan pasokan mencapai 61,7 hari atau di atas standar minimum sejumlah 22,3 hari.
Lebih lanjut, stok nasional BBM jenis Solar (CN 48) tercatat 1,57 juta kl dengan rencana penyaluran harian sebanyak 96.016 kl, sehingga ketahanan pasokan mencapai 16,4 hari atau di atas tipis batas minimum 16,3 hari.
Pertamina Dex (CN 53) memiliki stok 60.160 kl dengan rencana penyaluran harian sebesar 1.717 kl per hari dan ketahanan pasokan mencapai 35 hari atau di atas standar minimum 24,9 hari.
(azr/ros)





























