Sepanjang Mei, rupiah jadi mata uang terlemah di Benua Kuning. Di atas rupiah ada won yang terdepresiasi 2,1% dan yen Jepang yang melemah 1,67%.
Tekanan terjadi pada rupiah sepanjang Mei ini telah menggerus rupiah sebanyak 2,91%, dan memposisikannya sebagai mata uang terlemah bulan ini. Setelah rupiah menyusul won Korea Selatan yang melemah 2,1%, lalu yen Jepang 1,67%.
Jika ditarik lagi ke belakang, maka pelemahan rupiah sejak awal kuartal II-2026 mencapai 4,92%.
Harry Su, Managing Director Research di Samuel Sekuritas, menyebut rupiah masih dibayangi oleh pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan. Selain itu, dia menambahkan rupiah juga masih dibayangi risiko penurunan prospek atau peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global, seperti Moody's, S&P, atau Fitch akan memicu kepanikan investor obligasi dan menambah aliran modal keluar.
Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati kebijakan baru yang mewajibkan eksportir menempatkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri.
Para trader meragukan aturan tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan cadangan devisa. Sebab, dana tersebut pada dasarkan tetap berada di bawah kendali eksportir meskipun disimpan dalam sistem keuangan domestik.
Angka Psikologis Baru
Pelaku pasar sepertinya semakin berhati-hati menjelang rilis data inflasi Mei dan neraca perdagangan April pada pekan depan. Risiko terhadap perekonomian Inodnesia terus meningkat di tengah kenaikan harga energi, sementara ekspor periode Maret mengalami kontraksi.
Kini, pasar sepertinya bersiap dan telah memasang angka psikologis baru di level Rp18.000/US$. Harry mengatakan, meskipun sulit, level Rp18.000/US$ masih mungkin bisa dihindari.
"Apabila BI mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, memanfaatkan momentum redanya ketegangan geopolitik global, serta pemerintah melakukan langkah-langkah yang konkrit untuk meredam kekahwatiran pasar," katanya.
Namun, jika angka psikologis baru ini benar-benar tertembus, dampaknya akan jauh lebih besar dari yang sudah terjadi saat ini.
"Investor asing di pasar saham dan obligasi akan mempercepat aksi jual untuk mengamankan aset mereka ke dalam dolar AS, pelaku usaha akan langsung mengantisipasi lonjakan biaya bahan baku impor, yang pada akhirnya memicu sentimen negatif pada saham-saham berbasis manufaktur dan konsumen," sebut Harry.
Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi akan dipaksa naik guna mempertahankan daya tarik investasi yang berisiko meningkatkan beban pembiayaan utang pemerintah.
Baru-baru ini, UBS meramal bahwa BI kemungkinan akan kembali mengerek tingkat suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin masing-masing pada Juni dan Agustus.
Setali tiga uang, Barclays juga memproyeksikan BI akan mengerek BI Rate ke 5,75%, jika rupiah terus melemah secara konsisten hingga Rapat Dewan Gubernur (RDG) berikutnya, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(dsp/aji)




























