WHO Minta Obat Ebola Dibatasi dengan Alasan Uji Klinis
News
29 May 2026 05:40

Michelle Fay Cortez dan Gerry Smith - Bloomberg News
Bloomberg, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO meminta pemberian obat-obatan yang sedang dikembangkan untuk mengobati dan mencegah infeksi virus Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda dibatasi. Para Penasihat WHO menilai, pemberian obat tersebut lebih baik diberikan hanya sebagai bagian dari uji klinis -- bukan pengobatan massal.
Rekomendasi ini berarti akan membuat para pasien dan suspek virus Ebola di kedua negara berpotensi tak akan mendapatkan akses pada obat-obat tersebut. WHO menilai sangat sulit untuk mengembangkan obat Ebola, mengingat wabah muncul secara sporadis, sering di daerah terpencil, dan membunuh pasien dengan sangat cepat.
WHO mengumpulkan beberapa kelompok penasihat ahli untuk mengevaluasi obat-obatan potensial untuk strain Bundibugyo yang saat ini beredar. Mereka merekomendasikan agar semua produk “digunakan secara eksklusif dalam uji klinis untuk menghasilkan data yang kuat dan memastikan penelitian yang aman, etis, dan efektif,” kata organisasi tersebut.
Rekomendasi tersebut mungkin menemui penolakan. AS sudah berencana menyediakan antibodi monoklonal bagi warga AS yang terinfeksi, menurut seorang pejabat Gedung Putih. Perawatan tersebut akan tersedia di fasilitas di Kenya untuk merawat warga AS yang terpapar virus, kata pejabat tersebut dalam panggilan dengan wartawan pada Kamis.
Para penasihat kesehatan masyarakat menyebut pengobatan yang sedang dikembangkan oleh Mapp Biopharmaceutical Inc., Regeneron Pharmaceuticals Inc., dan Gilead Sciences Inc. sebagai “cukup menjanjikan sehingga layak diprioritaskan untuk dievaluasi dalam uji klinis,” kata WHO dalam sebuah email.



























