Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Menutup Hari di 'Bibir Jurang', Hampir Rp17.800/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
26 May 2026 15:35

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2026), dengan pelemahan 0,26% ke level terlemah sepanjang masa di Rp17.789/US$, menandai pelemahan hari keempat beruntun meski Bank Indonesia (BI) telah mengerek suku bunga acuan secara agresif. 

Pergerakan rupiah hari ini kian volatil dengan menyentuh level terendah lebih dari dua kali. Dari posisi Rp17.749/US$ pada pembukaan, rupiah terus tergerus ke posisi Rp17.786/US$ pada pukul 10:02 WIB, lalu melangkah ke Rp17.794/US$ pada 14:04 WIB. 

Pergerakan rupiah ini dipicu oleh harga minyak mentah dunia jenis Brent kembai terkerek 3,22% ke posisi US$99,33 per barel, setelah sempat merosot 7% kemarin.


Serangan militer AS di Iran terjadi, dan kembali mengaburkan prospek tercapainya kesepakatan sementara antara kedua negara itu untuk membuka Selat Hormuz. Penutupan Selat Hormuz untuk waktu yang panjang, membuat persediaan minyak global menyusut. 

Hal ini membuat sebagian besar mata uang Asia bergerak di zona merah. Baht Thailand melemah paling dalam, disusul ringgit Malaysia, lalu rupiah. Sebaliknya, won Korea Selatan justru tercatat menguat 0,81%. 

Pergerakan mata uang kawasan Asia, Selasa 26 Mei 2026. (Bloomberg)