Logo Bloomberg Technoz

Tekanan terhadap rupiah hari ini tidak hanya dipicu gejolak harga minyak akibat ketidakpastian global, tetapi mencerminkan memburuknya persepsi investor terhadap fondasi domestik Indonesia. Sebab, rupiah terus melemah setelah data-data ekonomi rilis pada pekan lalu. 

Kala pasar global dibayangi lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS, investor juga melihat risiko di dalam negeri semakin meningkat, mulai dari pelebaran defisit transaksi berjalan, tekanan fiskal, hingga ketidakpastian arah pembiayaan pemerintah ke depan. 

Kondisi ini membuat pasar obligasi Indonesia ikut kehilangan daya tariknya, dan membuat investor ingin diganjar lebih mahal dalam memegang aset berdenominasi rupiah. 

Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, hingga 22 Mei investor telahmencatat aksi jual sebesar US$101,3 juta secara bulanan, dan US$47,6 juta secara mingguan. 

Arus keluar modal ini memperlihatkan bahwa investor sepertinya tak lagi sekadar melakukan penyesuaian portofolio jangka pendek, malahan mulai mengurangi eksposur terhadap aset domestik yang dianggap makin rentan terhadap tekanan eksternal dan adanya risiko ketidakpastian kebijakan. 

Hal ini membuat pemerintah mengambil langkah intervensi untuk meredam gejolak pasar dengan membeli obligasi senilai Rp2 triliun per hari di pasar sekunder. 

Langkah ini sepertinya dilakukan untuk menahan kepanikan pasar dalam jangka pendek, sekaligus menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi rupiah sepertinya sudah masuk fase yang lebih struktural. 

(dsp/aji)

No more pages