Logo Bloomberg Technoz

Bagaimanapun, Rikky memastikan Chevron masih menjalankan rencana pengembangan carbon capture storage and carbon capture, utilization, and storage (CCS/CCUS) di Indonesia.

Sumur injeksi CO2 di fasilitas LNG dan CCS Gorgon, yang dioperasikan oleh Chevron Corp./Bloomberg-Lisa Maree Williams

Dia menegaskan hingga kini Chevron masih belum hengkang dari pengembangan proyek CCS di Indonesia, tetapi dia belum mengetahui nasibnya proyek gudang karbon itu usai aset Chevron diakuisisi oleh Eneos.

Sebelumnya, Rikky sempat menyatakan Chevron secara hati-hati masih melanjutkan niatnya untuk kembali berinvestasi ke hulu migas di Indonesia.

Dia menyatakan Chevron tengah mencari mitra-mitra kelas kakap untuk kembali menggarap aset migas di Tanah Air.

“Chevron dia lagi mencari teman-temannya yang selevel lah, yang sebesar dia. Jadi kegiatannya memang belum masuk ke Migas Data Repository [MDR] dan kita tunggu bersama lah ya,” ujar Rikky ditemui di kantornya, Senin (21/7/2025).

“Kalau Chevron ini, dia enggak mau gembar-gembor dahulu. Jadi harus dengan hati-hati sekali supaya memang tone-nya masuk."

Rikky saat itu mengatakan KKKS migas besar yang lain juga saling berdiskusi dengan Chevron untuk membahas berbagai potensi investasi besar dan kegiatan-kegiatan hulu migas di Tanah Air.

Mereka juga saling berbagi informasi mengenai risiko investasi hulu migas di Indonesia.

Rikky belum bisa mengonfirmasi kabar bahwa Chevron tengah melirik salah satu aset hulu migas di kawasan Jawa Timur-Bali ataupun kabar bahwa korporasi AS itu tengah ditawari untuk masuk ke WK di Indonesia timur.

Belum lama ini, perusahaan kilang minyak Jepang, Eneos Holdings Inc., mengakuisisi sejumlah aset kilang dan ritel milik Chevron Corp. di kawasan Asia Pasifik senilai US$2,17 miliar.

Menurut pernyataan perusahaan yang tercatat di Bursa Tokyo itu, aset yang diakuisisi mencakup kepemilikan 50% Chevron pada kilang minyak di Singapore beserta aset lainnya di negara kota tersebut, lalu di Malaysia, Filipina, Australia, dan Indonesia.

Di Indonesia, Chevron saat ini masih eksis dengan menjual pelumas, minyak gemuk, dan cairan pendingin bermerek Caltex melalui anak usaha PT Chevron Oil Products Indonesia.

Di sektor hulu migas, Chevron memiliki rekam jejak yang cukup panjang di Indonesia. Melalui PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Perusahaan global itu pernah menjadi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di Blok Rokan sejak 1971.

Namun, operasionalnya beralih ke PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sejak 9 Agustus 2021.

Korporasi tersebut juga sempat mengombang-ambingkan nasib proyek strategi nasional (PSN) di hulu migas, yaitu Indonesia Deepwater Development (IDD).

Di sisi lain, Pada 2023, Chevron mulai mengincar peluang investasi penangkapan dan penyimpanan karbon di Indonesia, yang dinilai dapat mengefisienkan kinerja sektor hulu migas dalam jangka panjang.

General Manager CCUS Solutions Chevron New Energies International Pte Ltd Chris Stavinoha mengatakan, seiring dengan kian meningkatnya permintaan energi di tingkat global, perusahaan migas konvensional pun mulai melakukan perubahan pola bisnis.

Chevron tercatat sempat meneken Joint Study Agreement (JSA) untuk mengkaji kelayakan CCS/CCUS dengan Pertamina di Kalimantan Timur, pada Maret 2023.

Lalu, Chevron sempat melakukan studi bersama dengan PT Pupuk Indonesia (Persero) terkait penilaian CCS sebagai upaya dekarbonisasi dan potensi produksi amonia rendah karbon di kawasan industri PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim).

Perjanjian studi bersama dengan Pupuk Indonesia telah ditandatangani pada Juli 2024.

(wdh)

No more pages