Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah pejabat senior AS pada hari Minggu menyatakan bahwa AS dan Iran tengah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, meskipun negosiasi mengenai sejumlah poin penting masih berjalan dan persetujuan akhir dari kedua belah pihak kemungkinan membutuhkan waktu beberapa hari. Namun, kantor berita Iran, Tasnim, mengingatkan bahwa rancangan tersebut masih bisa runtuh karena AS dinilai menghambat beberapa klausul penting, termasuk tuntutan Teheran terkait pencairan aset mereka yang dibekukan.

Perbaikan sentimen risiko di pasar global ini terjadi setelah kebuntuan selama berminggu-minggu setelah kesepakatan gencatan senjata pada April lalu. Para pelaku pasar terus memantau dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah, mengingat kekhawatiran atas lonjakan harga minyak dan inflasi sempat mendorong yield obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir pada awal bulan ini.

Grafik pergerakan dollar AS. (Sumber: Bloomberg)

"Pasar telah berada dalam mode bersiap menghadapi situasi pasca-perang Iran selama sebulan terakhir," ujar Alison Shimada, Manajer Portofolio Allspring, dalam wawancaranya di Bloomberg TV. "Saya tertarik untuk mengambil posisi pada apa yang terjadi di luar penurunan harga minyak, karena saya pikir kedua belah pihak memang menginginkan akhir perang melalui negosiasi."

Meskipun kedua negara kian dekat menuju kesepakatan, Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan "terburu-buru" dalam meresmikan perjanjian.

Atas dorongan beberapa pemimpin negara Arab, AS dan Iran terus mendiskusikan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata. Namun, kedua belah pihak memberikan deskripsi yang berbeda mengenai poin-poin yang akan dimasukkan ke dalam kesepakatan sementara tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara telah mengusulkan beberapa draf namun selalu gagal mencapai titik temu. Program nuklir Iran tetap menjadi titik buntu utama, terutama sikap Teheran yang menegaskan tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.

“Saya rasa pasar cukup optimistis secara hati-hati terhadap perkembangan di Timur Tengah, sehingga ada sedikit sentimen risk-on,” kata Kepala Analis Pasar AT Global Markets Nick Twidale. “Trump sudah berubah dari mengatakan ‘kesepakatan segera tercapai’ menjadi ‘saya tidak terburu-buru’ akhir pekan ini. Jadi menurut saya peluang kesepakatan kembali 50:50, meski tentu positif bahwa mereka masih bernegosiasi.”

Pelaku pasar tetap fokus pada dampak perkembangan Timur Tengah terhadap inflasi dan imbal hasil obligasi. Pekan ini, data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dan inflasi di Eropa akan memberi petunjuk terkait tekanan harga dan arah suku bunga.

Pasar kini sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada akhir tahun, mencerminkan ekspektasi bahwa Gubernur The Fed Kevin Warsh harus bergerak cepat menghadapi inflasi.

Warsh, yang menjanjikan perubahan terbesar dalam beberapa dekade di bank sentral AS, resmi dilantik pada Jumat. Trump menegaskan bahwa dirinya ingin Warsh memimpin The Fed secara independen, di tengah upaya meredam kekhawatiran investor bahwa ia akan menekan pimpinan baru bank sentral terkait kebijakan moneter.

Para analis memperkirakan imbal hasil obligasi global akan tetap tinggi meski kesepakatan AS-Iran dapat meredakan tekanan inflasi akibat harga minyak. Investor juga masih menghadapi kekhawatiran bahwa beban utang publik yang sudah besar akan terus meningkat, sementara kebutuhan modal dari booming investasi AI menambah tekanan pada pasar pendanaan global.

Di sisi lain, China meluncurkan kampanye besar terhadap perdagangan lintas batas ilegal untuk membendung arus keluar modal, termasuk mengancam hukuman berat bagi broker populer dan memerintahkan akun yang tidak patuh untuk dilikuidasi dalam dua tahun.

Langkah tersebut diumumkan segera setelah pasar domestik China tutup pada Jumat, ketika delapan regulator merilis pernyataan bersama yang menjanjikan penindakan terhadap perdagangan semacam itu. Kebijakan tersebut memicu penurunan saham-saham China yang tercatat di AS.

Sementara itu, penurunan harga minyak pada Senin terjadi setelah muncul tanda-tanda kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz. Sebuah supertanker pengangkut minyak mentah Irak menuju China diketahui melintasi garis blokade AS menuju Laut Arab. Sebanyak 33 kapal, termasuk tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal komersial lainnya, melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir setelah memperoleh izin dari Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.

“Pembukaan kembali Hormuz tentu positif bagi arus minyak global, tetapi sifat negosiasi yang masih dinamis dan perbedaan yang belum terselesaikan menunjukkan volatilitas harga minyak kemungkinan masih akan berlangsung,” tulis analis ANZ Bank, termasuk David Croy, dalam catatan kepada klien.

Beberapa pergerakan utama pasar:

Saham

  • Futures S&P 500 naik 0,7% hingga pukul 09.52 waktu Tokyo
  • Futures Hang Seng turun 0,5%
  • Indeks Topix Jepang naik 1,5%
  • Indeks S&P/ASX 200 Australia relatif stagnan
  • Futures Euro Stoxx 50 naik 0,6%

Mata Uang

  • Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,3%
  • Euro naik 0,4% ke US$1,1646
  • Yen Jepang naik 0,2% ke 158,87 per dolar AS
  • Yuan offshore naik 0,2% ke 6,7875 per dolar AS
  • Dolar Australia naik 0,5% ke US$0,7164

Kripto

  • Bitcoin naik 0,7% ke US$77.075,98
  • Ether naik 0,5% ke US$2.101,92

Obligasi

  • Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun turun 2,5 basis poin ke 2,735%
  • Imbal hasil obligasi Australia tenor 10 tahun turun lima basis poin ke 4,88%

Komoditas

  • Minyak mentah WTI turun 5,3% ke US$91,50 per barel
  • Emas spot naik 1,4% ke US$4.573,15 per ons

Artikel ini diproduksi dengan bantuan Bloomberg Automation.

(bbn)

No more pages