Logo Bloomberg Technoz

"Kinerja ekspor nonmigas triwulan I-2026 tidak setinggi capaian pada triwulan sebelumnya, yang dipengaruhi oleh perlambatan ekspor riil, di tengan perbaikan indeks harga," sebut laporan BI. 

Meski ekspor CPO masih tercatat naik menjadi 14,5% secara tahunan tertopang oleh permintaan dari India, tetapi kinerja ekspor besi dan baja masih terkontraksi 0,6%, dikontribusi oleh ekspor riil yang terkontraksi lebih dalam dari 4,3% pada kuartal sebelumnya, menjadi 5,2% pada kuartal I-2026. 

Begitu juga dengan ekspor batu bara masih mengalami kontraksi 8,4%, meski sedikit membaik dari kontraksi kuartal sebelumnya sebesar 15,6%. Tekanan ini datang bukan hanya dari turunnya harga komoditas, melainkan juga adanya pelemahan permintaan global. 

Ekspor nonmigas ke Malaysia juga terkontraksi 8%, lebih dalam dari kontraksi sebelumnya 1,5%. Begitu juga dengan ekspor ke Vietnam yang melambat dari 2,4% menjadi 0,1%, dan ekspor ke Thailand melambat dari 17,5% menjadi tumbuh hanya 12% secara tahunan. 

"Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan ekspor besi dan baja serta logam tidak mengandung besi, sejalan dengan tertahannya kinerja perekonomian Vietnam," sebut Laporan BI. 

Alhasil, secara nominal kinerja ekspor nonmigas pada kuartal I-2026 tercatat melambat menjadi US$63,5 miliar, lebih rendah dibandingkan ekspor kuartal sebelumnya sebesar US$69,7 miliar. 

Lebih lanjut, neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah menjadi US$13,3 miliar, dari sebelumnya US$16 miliar. 

Di sisi lain, tekanan terhadap devisa masih tetap tinggi. Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah menyebabkan defisit migas mencapai US$5,3 miliar, memang sedikit membaik dari kuartal sebelumnya sebesar US$5,7 miliar.

Namun, harga impor minyak naik dari US$74,5 per barel menjadi US$80,1 per barel. Padahal, volume impor sudah sedikit menurun menjadi 36,2 juta barel dari sebelumnya 37,5 juta barel pada kuartal IV-2025. Alhasil, biaya yang harus dikeluarkan untuk importasi minyak ini mencapai US$7,5 miliar. 

Selain itu, tekanan struktural juga datang dari defisit neraca jasa dan pendapatan primer. Defisit jasa meningkat menjadi US$4,6 miliar dari sebelumnya US$3,5 miliar. Sementara, defisit pendapatan primer tetap sangat besar di US$9,2 miliar. 

Sebagai catatan, defisit pendapatan primer ini mencerminkan adanya aliran devisa yang keluar untuk pembayaran bunga utang, kupon surat utang negara, dividen investor asing, serta repatriasi keuntungan perusahaan multinasional. 

Artinya, sebagian keuntungan dari pertumbuhan ekonomi domestik juga masih terus mengalir ke luar negeri. 

Sementara, investasi langsung alias foreign direct investment (FDI) juga melambat dengan pertumbuhan sebesar US$2 miliar dari kuartal sebelumnya US$3,2 miliar. 

Sepertinya, investor mulai lebih berhati-hati terhadap Indonesia di tengah ketidakpastian dan rendahnya prediktabilitas kebijakan domestik. 

Bantalan Modal Menipis

Tergerusnya NPI membuat stabilitas eksternal Indonesia kini semakin bergantung pada transaksi modal dan finansial. Memang, pada kuartal I-2026 transaksi modal dan finansial masih mencatat surplus US$4,9 miliar. Namun angka ini sebenarnya turun tajam dari capaian kuartal sebelumnya yang tercatat suplur US$9 miliar. 

Meski surplus kondisi bantalan modal ini sangat mengkhawatirkan. Sebab, sebagian besar aliran modal masuk tersebut berasal dari investasi portofolio jangka pendek ke instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Utang Negara (SUN). 

Investasi portofolio asing tercatat surplus US$0,7 miliar. Sementara kepemilikan asing di pasar SUN sebesar US$50,2 miliar, atau sekitar 12,4% dari total posisi SUN berdenominasi rupiah. 

Kondisi ini menjelaskan mengapa rupiah menjadi kian volatil dalam beberapa bulan terakhir dan semakin sensitif terhadap arah suku bunga The Fed, pergerakan yield US Treasury, hingga pergerakan harga minyak mentah global. 

Di sisi lain, volatilitas rupiah selama kuartal pertama dan berlanjut hingga kuartal kedua, juga telah menggerus cadangan devisa RI. Cadangan devisa tercatat turun dari US$156,5 miliar menjadi US$148,1 miliar, pada kuartal pertama.

Jika digabung hingga akhir April, maka penurunan devisa telah mencapai US$10,3 miliar dan posisi terbaru US$146,2 miliar. Penurunan cadangan devisa disebabkan oleh intervensi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. 

Meski cadangan devisa terhadap utang luar negeri jangka pendek masih tercatat naik 55,8%, tetapi posisi utang luar negeri (ULN) terhadap cadangan devisa juga ikut terkerek menjadi 292,5%. 

Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter akhirnya dipaksa untuk menjaga aset rupiah melalui suku bunga tinggi dan instrumen berimbal hasil menarik seperti SRBI.

Konsekuensi yang harus dibayar lebih mahal lagi, lantaran stabilitas rupiah harus diganjar dengan biaya dana yang tinggi serta perlambatan pertumbuhan ekonomi seperti saat ini. 

Nasib Rupiah

Laporan NPI kuartal pertama tahun ini menggambarkan kondisi fondasi eksternal Tanah Air mulai melemah dan tergerus secara perlahan.

Memang, masalahnya bukan karena Indonesia sudah masuk fase krisis. Namun datang dari kualitas ketahanan eksternal yang makin rapuh dan ketergantungan yang makin besar pada arus modal asing jangka pendek untuk menopang stabilitas rupiah. 

Tak heran jika pergerakan rupiah masih terus melemah meski BI telah mengambil langkah agresif dengan kenaikan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. 

Sejak awal 2026 hingga hari ini, rupiah telah melemah 5,79%.

(dsp/aji)

No more pages