Di lain pihak, Pejabat Program Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, mengungkap dua faktor yang mempersulit upaya untuk mengidentifikasi virus lebih awal. Pertama, pemerintah menggunakan tes untuk strain Ebola yang berbeda, yang mengakibatkan hasil negatif palsu. Kedua, terjadi salah deteksi karena varian Ebola ini memiliki gejala yang dapat menyerupai malaria.
WHO menilai, dua hal tersebut telah mempersulit upaya untuk mengendalikan wabah, terutama karena tidak ada tes, pengobatan, atau vaksin khusus untuk Bundibugyo. Vaksin eksperimental yang paling menjanjikan kemungkinan akan membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan untuk tersedia dalam uji klinis.
WHO telah mencatat hampir 600 kasus yang dicurigai dan 139 kematian yang terkait dengan wabah di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.
“Kami memperkirakan angka kasus akan terus meningkat mengingat lamanya virus tersebut telah beredar sebelum wabah terdeteksi,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dia pun telah memperingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh “skala dan kecepatan” penyebaran wabah sejauh ini.
(spt)





























