Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, Djoko mengaku belum ada penandatanganan heads of agreement (HoA) untuk proyek tersebut. Dia juga mengklaim tak mengingat investor yang bakal menyuntikan modal untuk membangun kilang metanol tersebut.

“Belum, belum [HoA]. Aku lupa [investornya],” kata Djoko.

Adapun, PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sempat mengungkapkan akan membangun pabrik metanol guna memenuhi kebutuhan mandatori biodiesel B50 terbaru pemerintah yang akan berlaku semester II-2026.

Direktur Utama PIHC Rahmad Pribadi mengatakan pabrik tersebut akan berlokasi di Lhokseumawe, Aceh, dan Bontang, Kalimantan Timur dengan masing-masing berkapasitas 1 juta ton.

"Alhamdulillah dua pabrik yang sudah ditugaskan oleh kami dari Kementan dan juga sudah disetujui oleh Danantara, ini akan kita bangun satu di Lhokseumawe, satu lagi di Bontang," ujarnya dalam rapat bersama Komisi IV DPR di Parlemen, Selasa (7/4/2026).

Dalam kesempatan terpisah, Rahmad mengestimasikan pabrik tersebut akan dibangun kurang lebih selama 40 bulan dari saat ini. Dengan demikian, estimasi rampung adalah sekitar 2029.

Rahmad menjelaskan, alasan penentuan pembangunan di kedua lokasi tersebut lantaran berdekatan dengan sumber gas sebagai pendukung pasokan bahan bakar pabrik, termasuk kawasan industri.

Di sisi lain, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan pembangunan pabrik metanol di Bojonegoro, Jawa Timur dengan nilai investasi US$1,2 miliar bakal rampung pada akhir 2027. 

“Mudah-mudahan itu nanti dengan percepatan, kita mengharapkan akhir 2027 bisa diselesaikan industri metanol di Bojonegoro,” kata Yuliot ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (14/3/2025).

Yuliot mengatakan pabrik tersebut dibangun untuk menggenjot produksi biodiesel, campuran minyak solar dengan bahan bakar nabati (BBN) sebesar 50% alias B50. Menurut berbagai sumber, pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 800.000 ton metanol per tahun.

Yuliot menjelaskan, ketersediaan metanol dalam negeri saat ini relatif terbatas. Dia mencatat bahwa Indonesia membutuhkan 2,3 juta ton metanol. Sementara itu, produksi dalam negeri berada di level 300.000 ton.

Artinya, sebanyak 2 juta ton metanol saat ini masih impor. Dia pun berharap dengan terbangunnya industri metanol di Bojonegoro, negara mampu menekan impor.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan program B50 membutuhkan metanol sebanyak 2,8 juta ton per tahun sebagai bahan untuk pembuatan fatty acids methyl ester (FAME).

“Jumlah B50 kalau non-PSO [public service obligation] sama PSO itu disamakan mandatorinya menjadi B50 maka perlu 2,8 juta ton metanol per tahun untuk reaksi dengan CPO menjadi FAME,” kata Eniya ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa (11/11/2025) malam.

Dia menyebut kapasitas produksi metanol dalam negeri hanya sekitar 600.000 ton, sedangkan impornya saat ini mayoritas didatangkan dari Timur Tengah. Dengan demikian, impor metanol berpotensi melonjak lebih jauh ketika B50 diimplementasikan semester II-2026.

(azr/wdh)

No more pages