Logo Bloomberg Technoz

Di tengah kondisi global yang masih sarat dengan ketidakpastian, pergerakan mata uang kawasan Asia cukup beragam. Penguatan datang dari baht Thailand, ringgit Malaysia, yen Jepang, yuan offshore, dan dolar Hong Kong. Sementara, won Korea Selatan masih tertekan. 

Pergerakan mata uang kawasan (Bloomberg)

Meski beberapa mata uang kawasan berhasil rebound pagi ini, kekhawatiran terhadap inflasi dari kenaikan harga minyak membuat imbal hasil obligasi global terkerek naik. Kondisi ini masih berpotensi menyebabkan adanya arus modal keluar dari kawasan Asia, termasuk Indonesia. 

"Dalam jangka pendek, mata uang Asia kemungkinan masih akan diperdagangkan dalam posisi yang lebih lemah," kata Chrispother Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp., seperti dikutip dari Bloomberg

Ia menambahkan, stabilitas mungkin bisa tercapai apabila harga minyak dan imbal hasil US Treasury berhenti naik. Namun pemulihan yang lebih berkelanjutan mungkin membutuhkan penurunan yield tenor panjang AS, meredanya ketegangan antara dua negara bertikai itu, serta berkurangnya tekanan arus keluar modal asing dari pasar saham kawasan. 

Kemarin, rupiah spot memang bergerak menguat setelah sempat menyentuh rekor terendahnya, dan ditutup di Rp17.605/US$. Penguatan itu berhasil menghapus pelemahan lantaran kebijakan kenaikan suku bunga 50 basis poin (bps) ke 5,25%. 

Rupiah memang berhasil menguat dari rekor terlemahnya, tapi tekanan eksternal belum benar-benar reda. Selama rupiah masih bergerak di rentang Rp17.550/US$ hingga Rp17.650/US$, tekanan depresiasi dinilai masih dominan. 

Kenaikan BI Rate ke 5,25% memang jadi langkah agresif dalam memprioritaskan stabilitas pasar dan menjaga nilai tukar serta meredam arus keluar modal asing. Tapi efektivitasnya masih sangat bergantung pada kondisi eksternal, terutama dari harga minyak mentah. 

Belum lagi dari sisi internal masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan terkait kondisi defisit fiskal yang masih menjadi perhatian banyak pelaku pasar.

Kemarin, dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto bahkan menyoroti terkait rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia yang paling rendah di antara negara-negara G20. Rasio pendapatan negara terhadap PDB di Meksiko adalah 25% dan India 20%. Sedangkan di level Asia Tenggara, Filipina 21% dan Kamboja saja 15%. Adapun Indonesia hanya tercatat sebesar 11-12% dari PDB.

Sorotan ini akan ditangkap oleh pelaku pasar sebagai sinyal kondisi fiskal domestik yang masih rapuh di tengah tekanan global yang semakin besar. Rendahnya rasio penerimaan negara terhadap PDB dapat menunjukkan kepada investor bahwa ruang fiskal Indonesia relatif terbatas untuk menghadapi gejolak eksternal.

Apalagi, ketika pemerintah membutuhkan belanja yang lebih besar untuk menjaga daya beli, subsidi energi, hingga melakukan upaya stabilitas ekonomi. 

Jika tekanan global kembali naik, terutama datang dari lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, dan kenaikan yield US Treasury tenor panjang, sepertinya rupiah berpotensi kembali menguji level Rp17.750/US$ hingga Rp17.800/US$. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai rupiah sejatinya masih ada potensi menguat, namun memang dengan laju penguatan yang terbatas di rentang sempitnya, dengan mencermati resistance terdekat menuju level Rp17.580/US$ yang merupakan resistance pertama dengan target penguatan selanjutnya Rp17.550/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 21 Mei 2026 (Sumber: Bloomberg)

Mencermati tren perdagangan selanjutnya, jika berhasil break kedua resistance tersebut, rupiah berpotensi menguat lanjutan dengan menuju level Rp17.500/US$ sampai dengan Rp17.400/US$ sebagai resistance paling terkuatnya, yang tercermin dari time frame daily.

Jika nilai rupiah terjadi pelemahan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp17.700/US$ dan selanjutnya Rp17.750/US$ hingga Rp17.800/US$ secara potensial menahan rupiah nantinya.

(riset/aji)

No more pages