Logo Bloomberg Technoz

Yield tenor 3 tahun naik 8,6 bps ke 6,64%, tenor 4 tahun naik 9,8 bps ke 6,83%, dan tenor 5 tahun naik 4,5 bps ke 6,76%. 

Sementara itu, yield tenor 6 dan 7 tahun ikut naik masing-masing 6,5 bps ke 6,9% dan 7 bps ke 6,91%. Lalu tenor 8 tahun naik 6,1 bps ke 6,91% dan 7 bps ke 6,94%. Tenor acuan 10 tahun juga terkerek naik 3,7 bps ke 6,81%. 

Kenaikan yield tenor yang cukup merata, terutama lonjakan terjadi pada yield di tenor pendek seperti 1 tahun dan 2 tahun. Kenaikan yield tenor pendek yang lebih agresif dibanding tenor panjang mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan dalam jangka menengah.

Pasar sepertinya melihat kenaikan BI Rate kali ini bukan sekadar langkah sementara, melainkan awal dari fase kebijakan moneter yang lebih ketat demi menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal.

Suku bunga deposit facility juga naik 50 bps menjadi 4,25%, sementara lending facility naik menjadi 6%. Artinya, biaya likuiditas di sistem keuangan nasional kini resmi bergerak naik di seluruh lini.

"Kebijakan suku bunga BI Rate ditempuh agar tetap konsisten dengan upaya untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan mencapai sasaran inflasi sebesar 2,5±1%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam siaran pers.

Kondisi global memang tidak memberi banyak pilihan bagi BI. Yield US Treasury masih bertahan tinggi mendekati 4,7%, dolar AS tetap kuat, dan harga minyak dunia melonjak ke atas US$100 per barel akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kombinasi ini memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang dan semakin memperbesar tekanan terhadap mata uang kawasan, termasuk rupiah. 

Dalam situasi seperti sekarang ini, mempertahankan suku bunga rendah justru berisiko mempercepat pelemahan rupiah dan memperburuk tekanan di pasar obligasi domestik. 

Dengan kenaikan BI Rate yang melampaui ekspektasi pasar, BI sepertinya memilih jalur defensif: menjaga daya tarik aset rupiah meski harus mengorbankan sebagian ruang pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan suku bunga ini ditempuh setelah BI secara gencar melakukan intervensi di pasar. Posisi instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) per 18 Mei 2026 tercatat sebesar Rp921,88 triliun dengan kepemilikan non-residen (investor asing) meningkat menjadi Rp221,59 triliun, atau setara dengan 24,04% dari total outstanding

Selain itu, BI juga tercatat membeli Surat Berharga Negara (SBN) hingga 19 Mei 2026 senilai Rp140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp73,28 triliun. 

(dsp/aji)

No more pages