Di sisi lain, Direktur Manajemen Pembangkitan PL, Rizal Calvary mengatakan target 17 GW tahap pertama PLTS dibidik selesai secepatnya. Meski begitu, Rizal menambahkan PLN menargetkan tahap pertama ini bisa selesai pada tahun 2028 mendatang.
“Tahun 2028, tapi kalau bisa secepatnya,” ujar Rizal saat ditemui.
Dia juga menyakinkan bahwa listrik yang berasal dari PLTS 100 GW ini 100% akan diserap oleh PLN dengan harga US$6 per kWh.
“Harganya kemarin 6 dolar per kWh, dan mereka [produsen PLTS] udah oke,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW. Target ini sangat masif, melonjak drastis dari kapasitas saat ini yang baru mencapai sekitar 1,5 GW, dan ditargetkan untuk direalisasikan dalam waktu singkat guna mempercepat transisi energi nasional.
Target ini diungkap Prabowo sebagai langkah mempercepat program listrifikasi nasional melalui pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga surya dengan kapasitas hingga 100 GW.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong percepatan transisi menuju energi bersih.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan arahan dalam acara tasyakuran HUT ke-1 Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
“Kita akan melaksanakan listrifikasi, energi terbarukan dari tenaga surya. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kita akan membangun 100 gigawatt. Itu sudah perintah saya, itu sudah keputusan saya. Dan kita akan buktikan kepada dunia bahwa kita lebih cepat dan efektif dalam hal ini,” ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, Indonesia memiliki berbagai sumber daya energi yang melimpah dan dapat dimanfaatkan untuk mencapai kemandirian energi. Selain potensi tenaga surya, Indonesia juga memiliki cadangan energi panas bumi yang sangat besar.
“Kita punya geothermal yang sangat besar, kalau tidak salah kedua cadangan terbesar di dunia, yang belum dieksploitasi sepenuhnya,” kata Prabowo.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki berbagai alternatif sumber energi lain yang dapat dikembangkan, termasuk bahan bakar berbasis komoditas pertanian seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu.
(smr/ros)
































