Logo Bloomberg Technoz

Respons pasar terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berbalik arah dan melorot 1,9% ke level 6.249 pada 11:14 WIB. 

Begitu juga di pasar obligasi yang memperlihatkan tekanan jual yang cukup kuat. Alih-alih memicu reli di pasar surat utang, investor justru terlihat melepas kepemilikan obligasi pemerintah, terutama pada tenor pendek hingga menengah.

Melansir data Bloomberg pada 12:05 WIB, yield tenor 1 tahun melonjak paling tinggi sebesar 12,9 basis poin (bps) ke level 6,68%, diikuti tenor 2 tahun yang naik 11,2 basis poin menjadi 6,638%.

Tenor 1 tahun mengalami lonjakan yield dan berada di posisi tertinggi sejak April 2025. 

Pergerakan di pasar obligasi setelah Pidato Presiden Prabowo Subianto. (Bloomberg)

Sementara itu, tenor 5 tahun naik 3,3 bps ke 6,75% dan tenor 10 tahun menguat 2,9 bps ke 6,8%. Tekanan juga terlihat pada tenor menengah-panjang. Yield 6 tahun naik ke 6,87%, tenor 7 tahun menjadi 6,89%, dan tenor 9 tahun naik ke 6,90%.

Hanya sebagian kecil tenor ultra panjang yang pergerakannya cukup beragam, dengan tenor 12 tahun dan 18 tahun mengalami penurunan tipis. Namun secara keseluruhan, kurva imbal hasil tetap bergerak naik, menandakan sentimen risk-off masih mendominasi pasar obligasi domestik.

Aksi jual ini mengindikasikan investor masih melakukan repricing terhadap risiko Indonesia di tengah kombinasi tekanan global dan ketidakpastian domestik.

Selain itu, kenaikan yang tajam di tenor pendek menunjukkan pasar sepertinya mulai meningkatkan ekspektasi terhadap risiko suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, apalagi konsensus ekonom memproyeksikan BI Rate naik menjadi 5% pada pengumuman siang ini. 

Penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik membuat investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. Sehingga, pasar meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menaruh uangnya di pasar domestik. 

Di saat bersamaan, pasar juga tampaknya belum memperoleh kepastian baru dari pidato presiden di parlemen terkait arah pembiayaan fiskal dan strategi menjaga stabilitas makro ke depan.

Sebab, investor obligasi sangat sensitif terhadap potensi pelebaran defisit, peningkatan kebutuhan penerbitan utang, maupun risiko inflasi yang dapat menahan ruang penurunan suku bunga Bank Indonesia.

Stagnasi yang ditunjukkan oleh rupiah dan aksi sell-off di pasar obligasi menunjukkan pasar sepertinya belum sepenuhnya yakin bahwa stabilitas domestik mampu mengimbangi tekanan eksternal yang sedang berlangsung.

Agaknya investor untuk sementara ini memilih bertahan dalam mode defensif sambil menunggu arah kebijakan ekonomi yang lebih konkret dari pemerintahan baru.

(dsp/aji)

No more pages