Lulusan Kampus Mulai Cemooh Perbincangan soal AI di Acara Wisuda
Merinda Faradianti
20 May 2026 15:05

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kekhawatiran generasi muda terhadap keberadaan kecerdasan buatan (AI) mulai digaungkan. Pasalnya, kalangan mahasiswa dan lulusan baru di sejumlah kampus di Amerika Serikat mulai mengejek hingga mencemooh pembahasan mengenai AI ini saat perayaan wisuda.
Laporan Axios menyebut, beberapa upacara wisuda tahun ini terganggu ketika pembicara mulai membahas AI. Salah satu momen paling ramai terjadi saat mantan CEO Google, Eric Schmidt menyampaikan pidato wisuda di University of Arizona pada Jumat lalu. Saat Schmidt membicarakan AI, ia beberapa kali mendapat ejekan dari para lulusan.
Eksekutif real estat Gloria Caulfield juga mengalami hal serupa ketika menyebut AI sebagai revolusi industri berikutnya dalam wisuda University of Central Florida. Pernyataannya langsung ditenggelamkan ejekan dari lulusan jurusan seni dan humaniora.
“Oke, saya menyentuh akord,” kata Caulfield menanggapi reaksi tersebut, dikutip Rabu (20/5/2026).
Di kampus lain, CEO Big Machine Label Group Scott Borchetta atau sosok yang dikenal mengorbitkan Taylor Swift pada 2005 juga mendapat respons serupa saat berbicara di wisuda Middle Tennessee State University.m“AI sedang menulis ulang produksi saat kita duduk di sini,” kata Borchetta, yang kemudian disambut cemoohan peserta wisuda.
Ia kemudian membalas reaksi tersebut dengan mengatakan, “hadapi saja, itu adalah tool. Kamu bisa mendengarku sekarang atau membayarku nanti.”
Tak hanya pidato, penggunaan AI dalam seremoni wisuda juga menuai kritik. Di Glendale Community College, sistem AI yang digunakan untuk membacakan nama wisudawan dilaporkan melewatkan sejumlah nama mahasiswa. Saat Presiden kampus Tiffany Hernandez menyalahkan teknologi AI atas kesalahan tersebut, ia juga langsung dicemooh audien.
Meski demikian, tidak semua pembicaraan soal AI mendapat penolakan. CEO Nvidia, Jensen Huang justru mendapat respons positif saat berbicara di wisuda Carnegie Mellon University. Huang mengatakan AI akan membawa perubahan besar bagi industri, namun meminta lulusan tidak takut menghadapi masa depan.
“AI tidak mungkin menggantikan Anda, tetapi seseorang yang menggunakan AI lebih baik daripada Anda,” kata Huang.
Data jejak pendapat Axios Harris Poll terbaru menunjukkan sekitar 42% Gen Z percaya AI akan membenakan peluang kerja dan upah mereka. Angka itu lebih tinggi dibanding milenial sebesar 33%, Gen X 39%, dan baby boomer 37%.
Meski dihantui kecemasan soal pekerjaan, generasi muda tetap menjadi pengguna aktif AI untuk membantu tugas kuliah, brainstorming, hiburan, hingga konsumsi berita.
Fenomena ini menunjukkan banyak anak muda sebenarnya tidak sepenuhnya anti-AI, melainkan takut tertinggal di tengah perubahan digital yang sangat cepat.
“Generasi muda tidak anti-AI. Mereka hanya takut ditinggalkan dalam debu digital.”
































