Namun, tekanan ekonomi semakin besar, dengan penutupan selat tersebut memicu lonjakan harga energi dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.
Belum jelas bagaimana negara-negara NATO dapat menjamin jalur aman bagi kapal-kapal komersial di selat tersebut. Upaya terbaru Amerika Serikat untuk melakukannya dihentikan hanya beberapa hari setelah dimulai, meski Washington memiliki kemampuan militer yang besar.
Juru bicara NATO belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Iran mulai memblokade Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia — setelah AS dan Israel mulai membombardir negara itu pada akhir Februari.
Sejak saat itu, jalur tersebut menjadi sumber ketegangan antara AS dan sekutu-sekutu Eropanya di NATO, yang menolak memenuhi tuntutan Presiden AS Donald Trump untuk membantu membuka kembali selat tersebut.
Trump berulang kali menunjukkan kemarahannya terhadap sikap para sekutu, dan Washington baru-baru ini mengumumkan akan menarik 5.000 tentaranya dari Jerman.
Pejabat senior NATO itu mengatakan, meskipun masih ada sekutu yang menolak pemberian mandat misi aliansi di Selat Hormuz, mereka kemungkinan akan mendukung ide tersebut jika blokade terus berlangsung.
Diplomat NATO tersebut juga mengatakan beberapa negara sekutu memang mendukung intervensi untuk membantu membuka kembali selat, namun mengingatkan bahwa negara lain masih enggan terseret lebih jauh ke dalam konflik.
Grynkewich mengatakan membuka kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz merupakan kepentingan bersama negara-negara sekutu, seraya menyebut Iran telah menembakkan sejumlah rudal ke wilayah aliansi.
“Penghentian ini berdampak sangat negatif terhadap seluruh perekonomian kita — dan dampak terhadap ekonomi juga akan memengaruhi kapasitas industri militer kita dalam jangka panjang,” ujarnya.
Meski negara-negara NATO sepakat ingin Selat Hormuz dibuka kembali, mereka mengambil pendekatan berbeda terhadap perang tersebut.
Beberapa negara seperti Spanyol secara tegas menolak perang. Madrid bahkan melarang AS menggunakan wilayah udara dan pangkalan militernya untuk menyerang Iran. Namun sebagian besar sekutu lainnya diam-diam tetap memberikan akses pangkalan untuk mendukung kebutuhan logistik.
Koalisi yang dipimpin Prancis dan Inggris juga tengah menyusun rencana untuk membantu mengamankan navigasi di Selat Hormuz setelah konflik mereda. Sejumlah negara bahkan telah menempatkan aset militer di kawasan tersebut sebagai langkah persiapan.
Meski demikian, langkah itu belum cukup meredakan kemarahan Trump, yang secara khusus diarahkan kepada Jerman. Hingga kini, AS juga belum mengajukan permintaan resmi agar NATO terlibat di Selat Hormuz, sebagaimana sebelumnya dilaporkan Bloomberg.
(bbn)





























