Ishak mencatat penggunaan LPG 3 kg saat ini sudah menjangkau lebih dari 40 juta rumah tangga yang tersebar dari kota besar hingga pelosok desa, sementara infrastruktur CNG masih terbatas dan belum mampu menjangkau seluruh provinsi di Jawa.
Investasi Besar
Dia juga menilai pengganti LPG 3 kg dalam waktu singkat akan membutuhkan investasi sangat besar, serta menuntut koordinasi lintas sektor yang sangat kompleks.
“Karena itu, CNG sebaiknya diposisikan sebagai opsi alternatif yang melengkapi portofolio energi rumah tangga, bukan sebagai pengganti tunggal LPG bersubsidi,” tegas Ishak.
Meskipun begitu, dia menyatakan tetap sepakat bahwa pemanfaatan CNG berpotensi menghemat devisa hingga Rp130 triliun per tahun, serta dapat memangkas subsidi LPG secara drastis.
Akan tetapi, Ishak menekankan terdapat biaya yang harus diperhitungkan pemerintah. Misalnya; beban investasi awal yang sangat besar harus ditanggung dalam waktu singkat, serta potensi risiko keselamatan publik akibat tabung CNG bakal bertekanan 250 bar atau lebih besar berpuluh kali lipat dari LPG.
“Belum lagi risiko fiskal jika subsidi tabung justru menggerus penghematan yang dijanjikan,” tambah Ishak.
Menyitir situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat 53 badan usaha niaga CNG di Indonesia.
Salah satunya adalah PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN. Saat ini, PGN Gagas mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di 7 provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari untuk layanan CNG masyarakat atau Gasku.
Untuk industri, PGN Gagas melayani lebih dari 600 pelanggan dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 million british thermal unit (MMBtu) sepanjang 2025.
Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengungkapkan pada tahun lalu perseroan penyaluran 4,6 juta MMBtu gas bumi melalui layanan CNG dan LNG.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan berencana untuk mengembangkan CNG dengan format tabung 3 kg.
Bahlil mengklaim penggunaan CNG memiliki biaya yang lebih murah sekitar 30% hingga 40%, tetapi dia tak menjelaskan pembandingnya. Dia juga mengklaim sejumlah industri perhotelan dan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menggunakan CNG sebagai sumber api dalam proses pemasak.
“CNG ini adalah sama juga gas, tetapi dia bukan LPG, dan sekarang sudah dipakai untuk hotel, restoran, dan beberapa [dapur] MBG-MBG. Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat dan ini cost lebih murah 30%—40%,” kata Bahlil dalam pidatonya di acara Himpunan Alumni IPB, Sabtu (2/5/2026).
Namun, dalam perkembangannya, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan wacana CNG 3 kg tidak akan dicanangkan untuk menggantikan LPG 3 kg bersubsidi.
Laode menjelaskan masifikasi CNG melalui pengembangan tabung 3 kg bakal dilakukan secara bertahap dan belum direncanakan dikembangkan sangat masif untuk menggantikan Gas Melon.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuma kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. [Kebijakan] yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).
Dia mengungkapkan pada tahun ini Kementerian ESDM bakal meluncurkan sejumlah proyek percontohan atau pilot project pemanfaatan CNG dalam tabung 3 kg.
Dalam kesempatan itu, Laode sempat menyatakan saat ini Kementerian ESDM bersama Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, hingga Badan Standardisasi Nasional (BSN) sedang mengurus pengembangan tabung CNG 3 kg.
“Jadi seperti yang Pak Menteri umumkan, kita sekarang sedang menganalisis berbagai aspek. Salah satu aspek penting adalah aspek keselamatan,” ujar Laode.
Menurut keterangan Kementerian ESDM, CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengkompresi gas alam yang terdiri dari C1 atau metana dan C2 atau etana.
Kemudian, CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekanan atau tabung pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar (setara 2.900 hingga 3.600 psi).
Ketahanan tabung juga diklaim dapat mencapai 650 baru atau 9.427 psi. Dengan begitu, tabung CNG bakal memiliki toleransi yang besar untuk kebutuhan keamanan.
(azr/wdh)






























