Logo Bloomberg Technoz

Menurut Dicky, Indonesia harus memastikan kesiapan laboratorium dengan standar keamanan biologis tinggi seperti BSL-3 dan BSL-4, termasuk kemampuan pemeriksaan PCR filovirus dan sistem transportasi spesimen biohazard yang aman.

Kesiapan rumah sakit rujukan juga perlu diperkuat melalui simulasi wabah, audit pencegahan dan pengendalian infeksi, ketersediaan alat pelindung diri (APD), hingga ruang isolasi bertekanan negatif.

Ia menambahkan pelatihan ulang tenaga kesehatan juga penting dilakukan agar respons terhadap potensi wabah tidak terlambat.

“Banyak pelajaran di masa pandemi, negara gagal bukan karena virus terlalu kuat, tetapi karena sistem kesehatannya terlambat bereaksi,” ujarnya.

Dicky juga menekankan pendekatan One Health menjadi kunci menghadapi ancaman penyakit zoonosis seperti Ebola. Menurutnya, wabah Ebola tidak hanya berkaitan dengan kesehatan manusia, tetapi juga erat dengan persoalan lingkungan seperti penggundulan hutan, fragmentasi habitat satwa, perdagangan satwa liar, perubahan iklim, hingga eksploitasi tambang dan hutan tropis.

Karena itu, ia menilai penanganan ancaman Ebola harus melibatkan lintas sektor, mulai dari kementerian kesehatan, lingkungan hidup, pertanian, karantina, imigrasi, BNPB, BRIN, hingga sektor satwa liar dan kesehatan hewan.

Selain penguatan sistem kesehatan, pemerintah juga diminta memperkuat komunikasi risiko kepada masyarakat secara transparan dan berbasis sains agar tidak menimbulkan kepanikan maupun sikap meremehkan ancaman penyakit.

Kasus Ebola di Uganda kembali menjadi perhatian dunia setelah otoritas kesehatan setempat melaporkan peningkatan penyebaran virus yang memicu pengawasan global. Wabah tersebut berasal dari Sudan strain Ebola virus yang belum memiliki vaksin berlisensi luas seperti strain Zaire.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sebelumnya juga meningkatkan pemantauan terhadap potensi penyebaran lintas negara, terutama melalui mobilitas internasional di kawasan Afrika Timur.

Hingga 16 Mei, Kongo melaporkan delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, 336 kasus suspek, dan 87 kematian suspek di Provinsi Ituri, menurut data Africa Centers for Disease Control and Prevention. Uganda mengonfirmasi dua kasus di Kampala, termasuk satu kematian, pada pelaku perjalanan yang datang dari Kongo.

Wabah tersebut diduga telah menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa minggu sebelum akhirnya teridentifikasi. Pengujian awal menemukan delapan sampel positif Ebola dari 13 spesimen yang dikumpulkan dari berbagai wilayah, sementara sejumlah kematian misterius dan kasus suspek tambahan juga dilaporkan di Ituri dan Provinsi Kivu Utara yang bertetangga.

(dec/del)

No more pages