Meski demikian, manajemen MYOR dalam laporan keuangan menjelaskan, perusahaan terpengaruh risiko nilai tukar mata uang asing yang timbul dari berbagai eksposur mata uang, terutama terhadap dolar AS.
Risiko nilai tukar mata uang asing timbul dari transaksi komersial yang akan diselesaikan di masa depan serta aset dan liabilitas yang diakui.
Manajemen telah menetapkan kebijakan yang mengharuskan entitas-entitas dalam grup mengelola risiko nilai tukar mata uang asing terhadap mata uang fungsionalnya. Entitas Grup diharuskan untuk melakukan lindung nilai seluruh risiko nilai tukar mata uang asing.
Terus Melemah
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan pekan ini.
Bahkan, Ibrahim memperkirakan, rupiah dapat melemah ke level Rp17.850/dolar AS nantinya. Di sisi lain, Ibarahim menambahkan, indeks dolar AS bakal melebar.
“Mata uang rupiah kemungkinan besar dalam perdagangan di minggu ini pun juga masih akan terus mengalami pelemahan bisa saja di Rp17.800/dolar AS, bisa saja di Rp17.850/dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Melemahnya nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Tekanan eksternal terutama berasal dari gejolak geopolitik global dan melambungnya harga minyak mentah membuat ketidakpastian global meningkat.
Situasi ini mendorong terjadinya penguatan indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY). Indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY)kini berada di level 99,09 atau menguat 1,15 dalam sepekan terakhir.
Sikap Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menanggapi santai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ia menyinggung kekhawatiran sejumlah kalangan terhadap pergerakan kurs.
Dalam peresmian Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, ia menyebut masyarakat di desa tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.
“Selama Purbaya [Menteri Keuangan] bisa senyum, tenang saja. Nggak usah takut gitu. Mau dolar berapa ribu kek? Kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” kata Prabowo, dalam pidatonya Sabtu (16/5/2026).
Prabowo kemudian berseloroh bahwa pihak yang paling terdampak oleh pelemahan rupiah adalah kalangan yang sering bepergian ke luar negeri serta para pengusaha.
Ia sempat menyebut beberapa nama sambil bercanda mengenai kebiasaan bepergian ke luar negeri.
“Yang pusing yang itu, yang suka keluar negeri. Pengusaha, lho,” sebutnya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan global yang memengaruhi pergerakan mata uang berbagai negara. Ia meminta masyarakat tetap percaya terhadap kekuatan ekonomi nasional.
“Percayalah, ekonomi kita kuat. Fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, ya. Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita. Percaya kepada rakyat kita,” jelas dia.
***Artikel ini telah mendapat perbaikan pada judul dan di sejumlah paragraf***
(red)



























